Oleh: aldyllah | Maret 31, 2012

Inkonsistensi Para Penentang Bid’ah Hasanah di Indonesia

Dalam upaya mengenang tokoh terbesar dalam sebuah golongan, kita sering menemukan berbagai peringatan-peringatan yang diselenggarakan untuk mengenang jasa dan meneladani tindak lampahnya. Contoh kecilnya, di negara kita Indonesia, terdapat sebuah peringatan kelahiran Ibu Kartini, Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pahlawan dan peringatan-peringatan lainnya yang dijadikan sebagai hari besar negara.

Nabi Muhammad SAW, sebagai utusan Allah ke muka bumi ini, yang dengan dakwahnya, kita dapat merasakan nikmat iman dan islam merupakan sebuah tokoh yang seharusnya lebih berhak untuk diteladani dan dikenang jasa-jasanya. Maulid Nabi Muhammad (hari Kelahiran Nabi Muhammad) tentunya lebih pantas diperingati oleh umat Islam dari pada hari kelahiran Ibu Kartini, hari ulang tahun kita sendiri (Ultah) atau yang lainnya yang jelas-jelas kepribadian dan kedudukan beliau tidak sebanding dengan umatnya.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah “kasus” dari sekian banyak “kasus” yang sering menjadi sasaran pembid’ahan oleh kelompok-kelompok tertentu. Dengan sebuah dalil bahwa peringatan semacam itu tidak pernah ada di zaman Nabi. Man Ahdatsa fi Amrina Hadza Ma Laisa minhu fahuwa Roddun – Khoirul Hadits Kitabullah wa Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Wa Syarrul Umur Muhdatsatuha wa kullu Bid’atin Dlolalah Wa Kullu Dlolalatin Fin Nar.

Klaim bid’ah terhadap sebuah golongan atau individu yang memperingati maulid merupakan sebuah “lagu lama” yang tidak bisa dihindari. Hal itu bersumber dari pemahaman sebuah hadits Nabi yang sering dibaca oleh para khatib dan penceramah di setiap prolognya. Dari pemahaman terhadap nash tersebut, akhirnya muncullah berbagai pendapat yang berlawanan. Dalam Fiqh Ikhtilaf (Fiqh Perbedaan), dikatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah perbedaan pandangan dalam memahami sebuah nash. Jadi pantas kalau dalam memahami hadist bid’ah tersebut terjadilah perbedaan pendapat antar ulama.

Dalam hal ini, ada sebagian yang berpendapat bahwa Bid’ah ada yang hasanah (baik) dan sayyiah (jelek). Pendapat ini banyak menuai kritikan, bahkan ada yang menuduh bahwa pendapat itu merupakan pendapat yang menyesatkan, sebab telah menyalai dan menyimpang dari sabda Nabi SAW yang dikatakan secara jelas bahwa “ kullu Bid’atin Dlolalah” setiap bid’ah adalah dlolalah (sesat).
Namun anehnya, di satu kesempatan, sebagian yang lain berpendapat dan mengklaim bahwa pendapatnya merupakan sebuah solusi dari sekian pendapat masalah bid’ah yang ada. Tidak mengakui pembagian bid’ah hasanah dan sayyi’ah namun berpendapat dan memakai istilah lain, yaitu bahwa bid’ah ada yang bersifat diniyah (agama) dan ada yang bersifat dunyawiyah (dunia). Ketika mereka tidak menerima dan mengatakan bahwa pembagian bid’ah ada yang hasanah dan sayyiah adalah sebuah kebid’ahan karena tidak bersumber dari syari’, maka pembagian bid’ah dunyawiyah dan diniyah juga merupakan sebuah kebid’ahan bahkan lebih bid’ah daripada apa yang mereka tuduhkan.

Terlepas dari itu, Maulid nabi Muhammad SAW adalah sebuah fenomena yang masih tetap diperbincangkan masalah hukum memperingatinya. Bagi golongan yang mengatakan bahwa peringatan maulid hanyalah kegiatan biasa untuk menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual (ibadah) sehingga dapat dikategorikan bid`ah hasanah dan bukan bid’ah yang terlarang, sampai kini mereka tetap eksis menyelenggarakan peringatan maulid Nabi setiap tahun.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia mungkin bisa dijadikan contoh dalam masalah maulid. Ormas-ormas yang ada pun juga berbeda pandangan dalam hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.Ada yang menerima dan memperingatinya seperti Nahdlatul Ulama’ dan ormas-ormas yang sependapatnya dan juga ada yang menentangnya dan mengatakan bahwa peringatan maulid adalah bid’ah.

Ada sebuah kejanggalan yang kiranya perlu penulis kemukakan dalam tulisan ini. Peringatan Maulid Nabi sudah tidak asing lagi dalam kehidupan warga Nahdliyyin, walaupun ada sebagian golongan yang mengkalim bahwa apa yang dilakukan oleh Nahdliyyin adalah bid’ah, namun peringatan maulid tetap diselenggrakan dengan berbagai acara yang amat variatif.

Pada tahun ini, 1428 H (3 tahun silam), Libya untuk yang kedua kalinya mengundang ormas-ormas dan tokoh-tokoh Islam sedunia untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di Nigeria. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia juga mendapatkan undangan. Dalam kesempatan kali ini, Indonesia diwakili oleh 13 delegasi dari berbagai ormas yang ada. NU sebagai salah satu ormas yang mau merayakan maulid juga mengirimkan delegasinya, namun anehnya, golongan-goongan lain yang sementara ini berseberangan dengan NU dalam masalah Maulid dan sering membid’ah-bid’ahkan warga nahdliyyin dalam memperingati Maulid juga turut hadir dalam peringatan Maulid yang diselenggarakan oleh negeri hijau itu.

What’s up?. Apakah kini pemahaman mereka tentang bid’ah sudah ada perubahan ?. Apakah kini maulid menurut mereka bukan termasuk bid’ah karena disesuaikan dengan zaman ? atau karena diundang oleh luar negeri sehingga sedikit kendor dalam mengawal pemahaman mereka selama ini ? atau karena dapat tiket pesawat dan uang saku sehingga tidak ada bid’ah lagi ? Wallahu A’lam

Konon pembacaan manaqib dianggap bid’ah oleh mereka tapi koq sekarang manaqib K.H. Ahmad Dahlan bisa kita saksikan di bioskop-bioskop terdekat ya?????

Apa pembacaan manaqib yang disertai pengajian saja yang bid’ah???
sedangkan yang dilakukan di bioskop tidak bid’ah????

Atau secara sederhana saya ingin bertanya
apakah hanya kebid’ahan yang kita lakukan yang mereka anggap sesat sedangkan yang mereka lakukan hanya kebid’ahan duniawi yang diperbolehkan????

sumber : Madzhab Imam Syafi’i Online


Responses

  1. Rasulullah sebagai pemimpin syariat sudah seharusnya memberikan fondasi yang kuat agar agama Islam tidak melenceng seperti agama yang terdahulu. Karna itu hadits “kullu” itu adalah Undang undang yang sudah benar mutlaq wahyu dari Allah. Namun kiranya pasti ada toleransi dalam penafsirannya, sekiranya tidak ada toleransi dalam penafsiran, maka sudah barang tentu Islam tidak akan bisa berkembang, karna dakwah yang tunduk dengan kondisi lapangan yang sudah barang tentu sarat dengan bid’ah seperti halnya Walisongo dan yang saya lakukan dengan mengetik email ini juga bid’ah karana seharusnya saya menulis memakai pelepah daun dengan pensil tanduk dan dikirim pakai jaran atau onta.
    perlu digaris bawahi bahwa hadits tentang toleransi perbedaan pendapat, pandangan dan makarimul akhlaq itu jauh lebih banyak dari pada hadits tentang bid’ah ini.
    Lha kalau memang tidak ada bid’ah khasanah mengapa sholat tarawih dengan 20 rakaat di masjidil haram.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: