Oleh: aldyllah | September 24, 2010

Jadilah Qori dalam Maqom Mustami’

بسم الله الرحمن الرحيم

Jadilah Qori’ Dalam Maqom Mustami’

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan wahyu dengan perantara Jibril, dengan menjadikannya rujukan untuk semua masaail, kesempurnaannya terlihat dari ragam nama yang meliputi keumuman dan kekhususan ma’na dalam tafdhil, ayat-ayatnya menjadi hujjah dan saksi dari setiap perbuatan bagi umat terdahulu atau yang bakal datang dengan tafshil.

Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam sebagai jembatan yang dapat mengantarkan amal kita kepada Robbul Bariyyah, yang tanpanya segala amal kita dapat tertrima atau tertolak dalam ibadah, tidaklah orang akan merasa bosan dan jenuh mengucapkannya jika telah memahami hikmah dibalik janji penuh arti di bawah bendera Muhammadiyah, semoga kepada ahlul bait dan dzuriyyah Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya untuk tabligh dalam da’wah yang slalu menetapi amanah.

Saudaraku yang dirahmati Allah, alquran dengan literatur bahasa yang tinggi dan sempurna telah melengkapi keindahannya, bukan saja berhenti disitu tapi juga bagi seluruh ummat Muhammad SAW diperintahkan untuk memperindah ayat-ayatnya dengan lantunan suara, sebagai mana Sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam:
زينوا القرآن باصواتكم
“perindahlah alquran dengan suaramu” ini merupakan perintah bagi kita yang hendak membaca alquran, agar supaya bacaan itu tidak membuat orang yang mendengar bosan dan meninggalkannya dan juga sebagai adab kita pada Pemilik firman.

Namun yang perlu dikaji ulang dalam masalah ini, adalah kenyataan yang lari dari maksud dan petunjuk shohibu syar’i, betapa telah banyak kita melihat orang yang tertipu dengan bacaannya di dalam shalat, dia melantunkan ayat suci dan do’a tapi tertutup hatinya dari memahami hakikat dzat yang telah menurunkan ayat yang memuat sifat-sifat dan af’al-Nya, lalu bagaimana khusyu dapat menuntun shalat kita apabila di dalam sifat dan af’al-Nya kita tidak temukan Dzat yang disifati dengan keagungan penuh kesempurnaan?

Saudaraku, nyata sudah bagi kita selama ini lebih memperhatikan pentingnya menetapi makhooriju al-hurf (tempat keluarnya huruf) untuk stiap bacaan lafadz dalam ayat, inilah perangkap syaitan yang halus, kita dibuatnya sibuk untuk teliti mengoreksi stiap bacaan, dan hanya mampu menikmati indahnya ayat yang terlantun mengikuti sighot (susunan kalimat) dalam ayat yang serasi.

Di dalam kitab Ihya Uluumi al-dien Imam Ghazali –rahimahullah- menjabarkan betapa seorang pembaca ayat suci dalam shalatnya tidak akan pernah sampai pada khusyu kecuali bagi siapa yang dapat mengagungkan Dzat yang berfirman, dan termasuk unsur yang sangat berperan dalam memahami keagungan Al-mutakallim (Allah) yaitu memahami stiap ayat dengan sesuatu yang layak untuk kita sandarkan pada murood al-kalimat (ma’na yang dikehendaki) sebab alquran mencakup atas penyebutan sifat dan af’al-Nya, perintah dan teguran, syorga dan neraka, yang keagungan ilmu alquran itu ada dalam asma dan sifat-Nya, karena itu sering masyarakat awam (umum) tidak dapat memahami adany keagungan kecuali dengan sesuatu yang mencocoki pemahamannya sendiri.

Saudaraku, ketika engkau membaca af’al Allah dalam sebuah firman, hendaklah engkau hubungkan dengan keagungan dibalik sifat Allah azza wa jalla, karena al-fi’lu (perbuatan) menunjukkan atas al-faa’ilu (Dzat yang berbuat) dan adanya keagungan pasti menghendaki sang pemiliknya, maka sudah semestinya musyaahadah (persaksian) di dalam perbuatan haruslah pada dzat yang berbuat (berkehendak), dan barang siapa telah sampai dalam musyahadah ini (mengetahui Al-haqqu) maka dia lazim menyaksikan-Nya (Allah) dalam segala sesuatu, karena hakekat segala sesuatu baik yang ada dibumi atau langit serta dalam keduanya adalah bersumber dari Allah, dengan kehendak Allah, dan akan kembali pada Allah, kepunyaan Allah, dan karena Allah, dan bagi sesiapa yang tidak menyaksikan Allah pada setiap apa yang ia lihat berarti dia seperti orang yang tidak mengenal Allah.

Bagi orang yang telah mengenal sifat dan af’al-Nya, dia akan melihat bahwa selain Allah adalah bathil (binasa) dan hakekat segala sesuatu itu binasa kecuali Dzat-Nya, bukan mengandung pengertian akan binasa bahkan sekarangpun kita adalah binasa, inilah musyahadah atas ma’rifatullah (mengenal Allah) dari sisi Dia sebagai Rabbul ‘Izzah, namun bila mengambil ‘ibroh (pelajaran) dari sisi wujud adanya alam karena hasil ciptaan dalam ketentuan dan kehendak-Nya, maka dari sudut pandang ini alam dan seisinya menjadi sesuatu yang tetap keberadaannya, adapun dari sudut pandang yang bebas tanpa ikatan, wujudnya alam ini adalah binasa (fanaa) sebagaimana firman Allah:
كل من عليها فان (الرحمن:26)
“Semua yang ada di muka bumi adalah binasa”
Dan juga firman-Nya:
ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام (الرحمن: 27)
“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”.

Saudaraku, inilah permulaan dari terbukanya ilmu mukasyafah bagi hamba yang dikehendaki Allah, dan barang siapa tidak mempunyai bagian dari ilmu ini walau pada derajat yang serendah rendahnya, maka disangsikan masuk dalam khitob (objek) ayat Allah:
و منهم من يستمع إليك حتى إذا خرجوا من عندك قالوا للذين أوتوا العلم ماذا قال انفا أولئك الذين طبع الله على قلوبهم واتبعوا اهواءهم (محمد: 16)
“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan : “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.”
أولئك الذين طبع الله على قلوبهم و سمعهم و أبصارهم وأولئك هم الغافلون (النحل: 108)
“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Diriwayatkan dari Imam Ja’far Sodiq –radiyallahu ‘anhu- ia berkata: Demi Allah, sungguh telah nyata (bertajalli) Allah SWT pada hamba di dalam firman-Nya, tapi merka tidak mengetahui. Sebagaimana diriwayatkan dalam quwatul quluub beliau berkata, ketika beliau ditanya tentang keadaan yang membuatnya tersungkur menangis dalam shalat, beliau menjawab: “saya masih slalu mengulangi ayat yang kubaca di dalam hatiku sehingga aku mendengarkan ayat itu langsung dari al-mutakallimu (Allah yang berfirman) dengan ayat, dan tubuhku tidak sanggup lagi berdiri karena melihat qudroh-Nya.

Saudaraku, inilah maqom taroqqii (naiknya pemahaman pada apa yang didengar) walau secara dzohir kita yang melafadzkan firman Allah tapi penghayatan kita pada Sang Mutakallim yaitu Allah.
Setidaknya kita sebagai Musholli (orang yang shalat) menempati salah satu dari derajat taroqqii ini:
1. Menjadikan diri kita seolah olah berdiri membaca ayat dihadapan-Nya, dan menghadap serta mendengarkan firman dari Allah, maka dengan keadaan ini akan lahir sikap memohon, mengiba, merendahkan diri, dan khusyu dalam doa.
2. Menyaksikan dengan hati seolah-olah Allah sedang mengajak berbicara dengan kelembutan di dalam kalam-Nya, dan membisikan kepada kita akan ni’mat dan karunia di dalam kebaikan-Nya, maka dengan keadaan ini akan lahir sikap malu, ta’dzim, mendengarkan dengan perhatian penuh atas firman dan memahaminya dengan penuh keagungan.
3. Menyaksikan di dalam kalaam (firman Allah) dengan keberadaan mutakallim yaitu Allah swt, dan melihat pada kaliimat dengan agungnya sifat, dan hendaklah tidak melihat pada diri sendiri, bukan juga pada bacaannya, dan tidak mempersaksikan ni’mat seolah ia adalah ahlinya (yang diberi ni’mat) tapi saksikanlah keterbatasan kita dalam berharap pada-Nya, memusatkan kosentrasi hanya pada Allah dan tenggelam dalam musyahadah dengan Allah, inilah derajat al-muqorrobuun (orang-orang yang dekat dengan Allah) dan dua derajat yang tersebut sebelumnya adalah derajat ashaabul yamien (orang-orang yang mendapat keberkahan), adapun keadaan yang keluar dari tiga derjat di atas adalah derajatnya ghoofiliin (orang-orang yang lalai).

Sungguh malangnya diri ini bila selalu lalai dari apa yang kita baca, bukankah itu firman dari kalaamullah? Yang kita semua bermunajat dengannya? Lalu kenapa kita sering tidak menyadari bacaan yang bermuara pada permohonan, do’a, harapan kepada Dzat Yang Berfirman???

Kesimpulan: sebagai qori’ dalam maqom mustami’ dan taroqqii hendaklah kita tetap rendah diri, tidak mepersaksikan baik pada diri akan kedekatan kita pada Allah, karena barang siapa mempersaksikan diri tentang kedekatannya dengan Allah padahal ia jauh, ia akan terpedaya tipuan syaitan dengan perasaan aman dan itu akan menyeretnya pada kedudukan yang lebih jauh lagi dalam kehinaan, namun barang siapa mempersaksikan diri dengan kejauhannya pada Allah sedangkan dia mendekatkan diri, maka hatinya akan dilembutkan dengan perasaan takut pada Allah, dan keadaan ini akan membawanya naik kepada derajat yang lebih tinggi dan sempurna.

Sadarlah, artikel ini tidak akan memberikan perubahan yang positif bagi pembaca bila ia tidak menghendaki musyahadah langsung dengan penuh mujahadah dalam khusyu beribadah, maka nasehat saya untuk diri sendiri dan saudara agar tidak mencukupkan diri dengan mebaca tapi mari kita mencoba. Wallahu a’lam bishawab

sumber : NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: