Oleh: aldyllah | Mei 14, 2010

Membangun Generasi Yang Senang Dengan Kritik

Sepenuhnya saya menyadari banyak orang yang tidak suka diperingatkan, seperti halnya seorang anak yang sedang asyik-asyiknya bermain kemudian dilarang karena mendekati bahaya. Si anak tidak pernah mengerti arti larangan, baginya hanya mengikuti nalurinya untuk mencari kesenangan saja.

Bagaimana dengan orang dewasa? Coba direnungkan sifat pemenuhan akan kesanangan ini sebenarnya tetap ada walaupun bentuknya beragam dan bisa dilihat dari objek kesenangannya. Bahkan jika kita pahami betul khususnya dimasyarakat perkotaan adalah komoditi yang mahal yaitu entertainment (hiburan). Tanpa disadari kesenangan juga merupakah salah satu kebutuhan dan apabila terus menerus diikuti atau hanya mencari kesenangan saja niscaya tidak akan ada habisnya, karena manusia memiliki rasa bosan dan kesenangan biasanya menuntut hal-hal baru yang lebih menyenangkan dan imbasnya jauh dari rasa kepedulian. Kapankan seseorang akan merasa cukup atau sekedarnya saja dan menengok kembali kebutuhan yang sifatnya lebih mendasar?

Cobalah kita renungkan baik-baik terutama hal-hal yang dalam pandangan kita adalah buruk, seperti musibah, kerusuhan, perdebatan, pertengkaran dst. Dan tentunya kita tidak menginginkan semua itu, dengan kemampuan nalarnya manusia juga dapat mengerti sebab akibat namun dalam kondisi tertentu akan serasa sulit untuk berhenti sebelum hal-hal buruk itu terjadi apalagi belum pernah merasakan akibatnya. Maka tak heran nasihat atau teguran dianggap seperti angin lalu saja. Kalaulah anak kecil dilarang dan tak mau berhenti tentunya masih wajar, bagaimana dengan orang dewasa yang banyak mengalami kejadian buruk namun tak pernah jera ataupun mengambil pelajaran? Dan selebihnya apakah semua harus berhenti pada suatu keadaan dimana peristiwa buruk akan menimpanya atau orang lain atau orang banyak (masal)?

Dalam mengambil pelajaran kita bisa berkaca pada peristiwa lain, walaupun tidak kita alami namun kita punya hati nurani untuk turut merasakannya atau meraba derita orang lain.

Untuk uraian diatas tentulah timbul pertanyaan “Apa hubunganya kesenangan dengan musibah atau kejadian buruk?”.

Dalam hal ini saya mencoba membuat suatu alur agar seseorang mengerti sebab akibat dimana kita hidup di dunia ini berdampingan yang semua komponennya seharusnya saling mengikat agar keadaan baik tetap terjamin walaupun sebagian orang tidak menyukai. Pada suatu keadaan tertentu orang mengerti bagaimana keadaan baik itu bisa tercipta namun tidak semua mampu menelusurinya sampai keakarnya yang sifatnya luas atau menyeluruh apalagi bila ego yang didasari kepentingan sempit yang hanya mewakili keadaan dirinya saja.

Disinilah kemampuan seseorang teruji untuk menguraikan berbagai serangkaian peristiwa yang serasa timpang yang disebabkan oleh kesenjangan dan butuh perenungan mendalam untuk mengetahui arahnya dari kecondongan masyarakat luas yang lebih menyukai kebebasan tapi seringkali kebablasan (tidak jelas arahnya dan memburuk) karena lebih didominasi dorongan untuk memenuhi kesenangan bukan didasari kepentingan untuk menjamin kemaslahatan yang sarat dengan pengorbanan.

Bagaimana dengan konteks keimanan?

Sebutlah salah satu sifat yang disifatNYA yaitu murka. Apakah DIA tidak punya sifat murka? Apakah murka bisa dipisahkan dari sifat Rahman dan RahimNYA? Apakah sifat murka merupakan sifat yang selamanya buruk?

Sebagai analogi dan perenungan :
Ketika orang tua memarahi atau memberi hukuman anaknya karena melakukan hal yang salah apakah atas dasar kebencian?
Bagaimana dengan yang lebih luas lagi seperti musibah atau bencana ataupun kematian?
Bukankah seseorang seringkali terhenti dari menuruti hawa nafsunya tatkala mendapatkan musibah.

Musibah atau apapun yang kadang tidak kita senangi justru menjadi jalan untuk mengingat, yaitu mengingat nikmat yang hilang yang selama itu tidak disyukuri dan tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya yang apabila tidak ada musibah atau sesatu yang ada kemudian tiada dianggapnya sebagai keadaan yang memang semestinya atau kebetulan saja.

Dan selebihnya adahal hal yang susah diuraikan apabila kita bicara hidayah atau petunjukNYA, dan tidak semestinya membiarkan keingkaran terjadi tanpa sedikitpun ada usaha untuk mencegah atau memperbaiki terutama dari diri sendiri.

Pahamilah apabila Islam tidak dijalankan dengan semestinya, maka lahirlah penggugat-penggugat yang jauh lebih lantang menghembuskan fitnah. Dan akankah kita diam saja? Padahal tanpa dimusuhi saja orang sudah banyak meninggalkan karena masing-masing sibuk dengan target kesenangannya.

Jika tahu betul apa itu amar makruf nahi mungkar tentunya tidak akan berdiam diri. Dan jika tahu betul fitnah lebih kejam dari pembunuhan tentunya tahu kehidupan bukan sekedar penghidupan.

Mulailah senang dengan kritik tentunya dari ucapan yang benar walau menyakitkan. Jadilah setiap kajian sebagai dialog dari hati kehati sebelum mengoreksi orang lain.

***

2:216. “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

sumber : NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: