Oleh: aldyllah | April 10, 2010

100 Hari Gus Dur

Bagi Kami, Gus Dur Adalah Pahlawan Sejati
Jumat, 09 April 2010 | Warta Ummat

Kamis lalu, tepat seratus hari KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur wafat. Namun, di Desa Klewor, Kecamatan Kemusu, Boyolali, sosok Gus Dur tiba-tiba hidup lagi dan bertutur di depan ratusan warga desa di pinggir Waduk Kedungombo itu. Dengan kaos oblong putih, lengkap dengan kacamatanya Gus Dur tampak tegas, bijak, namun humoris dalam menyampaikan wejangan kepada warga desa.

Kehadiran Gus Dur, tentu bukan sebenarnya, hanya dalam bentuk tokoh wayang sentral dalam pergelaran Wayang Kampung sebelah dengan dalang Ki Jlitheng Suparman, yang sengaja membuat figur khusus Gus Dur, bahkan kemarin membabar lakon Banjaran Gus Dur. Jlitheng, bersama sekitar 200-an warga Klewor berkumpul di gedung koperasi desa , khusus untuk memperingati 100 hari wafatnya Gus Dur.

Adapun Gus Dur, memang bukan pribadi yang asing bagi warga Klewor yang menghimpun diri dalam Paguyuban Warga Kedungombo (PWK). “Dari sekian banyak Presiden Indonesia, hanya Gus Dur yang peduli pada penderitaan warga Kedungombo. Saya yakin Mbah Gus Dur tidak ingin disebut pahlawan. Tapi di mata kami dia adalah pahlawan sejati,” ujar Hendro Wartoyo, koordinator acara.

Hendro kepada Joglosemar menjelaskan, semasa menjabat presiden, Gus Dur menyempatkan hadir di Kedungombo bersama Gubernur Jateng Mardiyanto. Setelah dua jam lebih mendengar keluh kesah warga mengenai ganti rugi tanah yang digunakan membangun waduk, Gus Dur memerintahkan agar masalah yang terjadi sejak tahun 1985 itu diselesaikan. Terpisah, Ki Jlitheng Suparman menuturkan, dia menciptakan figur wayang Gus Dur. “Bukan untuk pengultusan, tetapi saya ingin menyebarkan ajaran-ajaran Gus Dur. Tentunya, dengan harapan agar ajaran-ajaran mulia itu tidak hanya diucapkan di mulut, tetapi juga dilakukan dalam keseharian,” ujarnya.

Sementara itu di Solo, sekelompok pelajar SD Negeri Joglo 76, Banjarsari, kemarin menggelar lomba menggambar di halaman sekolah, untuk mengenang Gus Dur. Yang digambar adalah sosok Gus Dur yang diperankan oleh Zulfikar, salah seorang murid yang memang berpostur montok, ditambah dengan kostum baju lurik, kaca mata dan peci ala Gus Dur. ”Kita tumbuhkan rasa nasionalisme siswa dalam momen seperti ini. Meneladani sosok Gus Dur selama hidupnya yang sanggup merangkul semua elemen masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, suku dan ras,” tutur Yoel Triatmo, salah seorang guru, di sela-sela acara..

Mayor Haristanto yang menggagas kegiatan itu akan memajang karya anak-anak itu di Pasar Ngarsopuro. (rel/harjo/joglosemar)

http://warta-ummat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=968:bagi-kami-gus-dur-adalah-pahlawan-sejati&catid=89:umum&Itemid=457

================================================

Yenny Wahid Cerita Sering Mimpi Didatangi Gus Dur
Jumat, 09 April 2010 | Jawa Pos
Peringatan 100 Hari di Tebuireng, Jombang

JOMBANG – Meski tadi malam diguyur hujan, ribuan orang tetap tak beranjak dari tempatnya. Mereka memadati sekitar 1,5 hektare areal di sekitar makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Malam itu, peringatan 100 hari meninggalnya Gus Dur dilaksanakan dengan khidmat dan lebih sederhana bila dibanding peringatan 40 harinya.

Acara yang disiarkan langsung oleh JTV (Jawa Pos Group) itu dimulai sekitar pukul 19.30. Tampak di barisan terdepan yang paling dekat dengan makam Gus Dur adalah KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), pengasuh pondok pesantren Tebuireng yang juga adik kandung Gus Dur. Tampak pula putri-putri Gus Dur. Yakni, Zannubah Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) bersama suami (Dhohir Farisi), Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid bersama suami, dan Inayah Wulandari Wahid. Istri Gus Dur, Ny Shinta Nuriyah, tidak hadir.

Dari kalangan kiai berpengaruh hadir, antara lain, mantan Menteri Agama KH Tolchah Hasan dan KH Abdul Azis Mansyur (pengasuh Pondok Pesantren Pacul Gowang, Jombang). Beberapa warga yang hadir duduk di kursi dan ada yang berdiri. Tidak semua pengunjung bisa masuk ke areal kompleks pondok. Peringatan diawali dengan pembacaan Surat Yasin bersama-sama. Dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin KH Abdul Aziz Mansyur. Setelah membaca tahlil bersama, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Gus Sholah.

Pada kesempatan itu, dia menceritakan rencananya menata pondok berkaitan dengan makam Gus Dur. ”Kami butuh peran besar pemerintah,” katanya. Tidak dimungkiri, sejak Gus Dur dimakamkan di kompleks Tebuireng, banyak tantangan yang dihadapi. Di antaranya, menjamurnya PKL (pedagang kaki lima) di depan pondok. Para PKL itu ada karena makam Gus Dur tidak pernah sepi didatangi peziarah. Selain itu, yang perlu dipikirkan adalah tempat parkir para peziarah dan infrastruktur jalan. Juga, aspek belajar-mengajar di pondok pesantren. ”Persoalan itu sudah diketahui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” katanya. ”Yang jelas, perlu ada pengaturan yang lebih baik,” tambahnya.

Putri sulung Gus Dur, Yenny Wahid, ketika mendapat kesempatan memberi sambutan lebih banyak mengupas kisah seputar sepak terjang Gus Dur. Dia juga menceritakan pengalamannya akhir-akhir ini yang sering bermimpi didatangi Gus Dur. Termasuk ketika menjelang Muktamar NU di Makassar. ”Mimpinya seperti apa, tidak perlu saya sampaikan,” ungkapnya. (riq/fen/jpnn/c5/kum)

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=127398

================================================

KH Maimun Zubair Kebagian Baca Doa
Jumat, 09 April 2010 | NU Online

Jombang, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, dijadwalkan hadir dalam peringatan 100 hari meninggalnya KH Abdurrahman Wahid alis Gus di Pondok Tebuireng, Jombang. Kiai sepuh itu mendapatkan bagian membaca doa dalam acara itu.

Menurut Ustadz Anas, salah satu panitia, acara tahlil 100 hari Gus Dur itu dimulai setelah shalat isya. Acara akan dibuka KH Salahuddin Wahid dari perwakilan keluarga. Sedangkan pembacaan surat Yaasin akan dipimpin KH Ahmad Fatoni dari Mojokerto. Untuk pembacaan tahlil dipimpin Ustad Chariris Shakih, alumnus Pondok Pesantren Madrastul Qur’an Tebuireng.

KH Maimun Zubair atau Mbah Mun rencanaya akan memimpin doa. Dan terakhir adalah mantan menteri agama KH Tolchah Hasan. Beliau akan memberikan tausyiah. Alhamdulillah, saat ini Kiai Tolchah sudah hadir, kata Ustadz Anas, Kamis (8/4) malam seperti dilansir beritajatim.com. Selain Tolchah Hasan, kerabat Gus Dur juga sudah datang. Mereka adalah Yeni Wahid bersama suaminya Dhohir Farisi, Alissa Wahid, serta Inayah Wulandari. Sedangkan saudara Gus Dur yang sudah datang adalah Aisyah Wahid dan Lily Chadijah Wahid. (mad)

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=22908

================================================

50 Ribu Nahdliyin Yogyakarta Dipusatkan di Alun-alun Utara
Jumat, 09 April 2010 | NU Online

Yogyakarta, NU Online
Puncak peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur juga akan digelar di Yogyakarta, besok, Sabtu (10/4). Acara akan dipusatkan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Diperkirakan lebih dari 50 ribu warga Nahdliyin akan hadir dalam acara tersebut. Beberapa tokoh dijadwalkan juga akan hadir, seperti Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj, Sri Sultan HB X dan Lily Wahid.

Acara ini bertema Memperkokoh NKRI dan Memperkuat Integritas Bangsa Indonesia dilanjutkan pada malam harinya dengan acara tahlilan akbar yang akan dilaksanakan di Alun-alun utara Keraton Yogyakarta.

Ketua Panitia Peringatan 100 Hari Gus Dur di Yogyakarta, Munir menjelaskan, acara ini akan melibatkan kyai ponpes se-DIY, serta melibatkan warga Nahdliyin dan simpatisan Gus Dur. (min)

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=22906


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: