Oleh: aldyllah | Maret 30, 2010

Said Aqil, Pengkaderan, dan Kembali ke Pesantren

Setelah sepuluh tahun menanti, kesempatan Prof Dr KH Said Aqil Siradj untuk memimpin Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, akhirnya datang juga. Pada Sabtu malam, setelah melalui dua tahap pemilihan, di Muktamar ke-32 NU di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Said Aqil terpilih sebagai ketua umum Pengurus Besar (PB) NU.

Said memenangi pengumpulan suara dalam pemilihan yang dilakukan langsung. Ia mengumpulkan 294 suara dari pengurus wilayah dan atau pengurus cabang NU se-Indonesia. Pesaingnya, Slamet Effendy Yusuf, mantan ketua umum Gerakan Pemuda Ansor selama dua periode, “hanya” mendapat 201 suara.

Sebenarnya ada kandidat lain yaitu Salahuddin Wahid, Masdar Farid Masudi, Ali Maschan Moesa, Ahmad Bagdja, dan Ulil Abshar Abdalla. Tetapi, mereka kandas dalam upaya mendapat tiket sebagai calon ketua umum PBNU karena gagal mengumpulkan sedikitnya 99 suara yang merupakan syarat minimal yang ditetapkan muktamar.

Keyakinan Said Aqil bahwa dukungan yang diperolehnya saat maju sebagai calon ketua umum di Muktamarke-30 NU di Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, tahun 1999, merupakan modal awal yang menguntungkan baginya.

Dalam muktamar kala itu ia memang kalah tipis, hanya selisih 32 suara, dari KH Hasyim Muzadi yang saat itu didukung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Namun, sisi positifnya, ia menjadi dikenal dan dikenang oleh pengurus NU se-Indonesia.

“Di Lirboyo saya mendapat 135 suara. Setelah sepuluh tahun tentu jumlahnya beranak-pinak,” kelakarnya kepada wartawan di Makassar, Selasa (23/3). Meski gagal menjadi ketua umum, alumni Universitas Ummul Qura, Mekah, itu tetap masuk di kepengurusan PBNU dengan jabatan rais syuriah.

Pada Muktamar ke-31 NU di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, tahun 2004, Said Aqil kembali mencoba maju sebagai calon ketua umum. Namun lagi-lagi ia gagal, bahkan perjuangan terhenti baru sebatas berstatus bakal calon.

Meski demikian, kedalaman ilmu yang dimilikinya membuat alumni Pesantren Lirboyo dan Krapyak itu kembali menjadi pengurus PBNU sebagai salah satu ketua.

Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dan UI Jakarta itu mengaku merindukan saat-saat NU dipimpin Gus Dur yang menurutnya sangat memperhatikan masalah pengkaderan.

“Di masa kepemimpinan Gus Dur seluruh badan otonom dan lembaga di NU bergerak secara paralel dalam kepemimpinannya. Di masa itu badan otonom dan lembaga di NU juga terus menghidupkan kegiatan pengkaderan,” katanya.

Karena itu, khatib aam (sekretaris umum) syuriah di era kepemimpinan Gus Dur itu bertekad menjadikan pengkaderan sebagai program prioritasnya sebagai ketua umum PBNU. Menurutnya, tantangan kader NU di masa depan tidak lagi berkutat pada persoalan konsep-konsep akidah, fikih, atau tasawuf, melainkan pada kemampuan aktualisasi konsep.

“Pada tataran konsep kita sudah kaya, tinggal kemampuan merealisasikan konsep itu yang perlu kita tumbuh kembangkan. Pengaderan di NU jauh lebih penting daripada urusan politik,” katanya.

Kembali ke pesantren

Slogan Said Aqil dalam pencalonannya sebagai ketua umum PBNU kali ini adalah “Kembali ke Pesantren”. Menurutnya, perhatian NU yang selama ini terkuras ke dunia politik harus diarahkan kembali pada basisnya di pesantren.

“Kembali ke pesantren bukan berarti kembali mondok, tapi kembali pada pola dan cara berpikir pesantren, cara hidup pesantren, cara pandang pesantren,” katanya. Sebab, kata Said Aqil, di pesantren ada hikmah, kebijaksanaan, kesederhanaan, dan kemandirian. Berkat pesantren pula NU dapat bertahan, bahkan menjadi organisasi muslim terbesar di dunia.

“Tanpa pesantren, NU hanya akan tinggal nama,” kata kiai yang menamatkan pendidikan sarjana strata satu hingga doktoral di Arab Saudi itu. Pesantren, kata Said Aqil, berhasil menyinergikan antara agama dan budaya. Agama tidak akan kuat jika tidak ditopang oleh budaya.

Untuk kembali ke pesantren, lanjutnya, mau tidak mau NU harus mengurangi aktivitas yang terkait persoalan politik, terutama politik praktis. “Pondok pesantren perlu didorong untuk maju dan berkembang, mengingat pesantren adalah benteng sekaligus pusat persemaian kader muslim di Indonesia,” katanya.

Gerakan kembali ke pesantren, lanjut Said Aqil, adalah gerakan untuk menjadikan pesantren dan santrinya sebagai entitas yang siap menghadapi persaingan dunia yang semakin global. (ant/mad)

sumber : NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: