Oleh: aldyllah | Maret 29, 2010

NU Yang seharusnya

NU Harus Posisikan Diri sebagai Kekuatan Sipil.
| Senin, 29 Maret 2010 | KOMPAS Cetak |

Jakarta, Kompas – Nahdlatul Ulama harus memosisikan diri kembali sebagai kekuatan masyarakat sipil yang moderat. NU harus mampu menggerakkan sekaligus memberdayakan kekuatan organisasi yang mandiri untuk kepentingan publik.

NU tidak boleh lagi terombing-ambing dalam tarikan dan kepentingan politik praktis. Sebagai kekuatan masyarakat sipil yang sangat besar, NU seharusnya bisa mengendarai, bukan justru dikendarai, kelompok atau kekuatan politik tertentu.

Gagasan mengenai peran masa depan NU itu disampaikan cendekiawan Muslim yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Qasim Mathar dan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya Kacung Marijan yang dihubungi terpisah, Minggu (28/3). Mereka berbicara terkait terpilihnya kepemimpinan baru Pengurus Besar (PB) NU periode 2010-2015, yaitu Rais Aam Syuriah KH MA Sahal Mahfudh dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Said Aqiel Siradj dalam Muktamar Ke-32 NU di Makassar yang ditutup hari Sabtu.

Menurut Qasim, kekuatan masyarakat sipil harus lebih diperankan oleh NU lima tahun ke depan. ”Sebagai kekuatan sipil, NU harus bisa mengendarai, bukan dikendarai,” katanya.

Terpilihnya KH Sahal dan KH Said Aqiel, ujar Kacung, memperlihatkan kekuatan moderat akan semakin tumbuh di NU. KH Said dikenal lebih menonjol sikap akomodatifnya, terutama dalam konteks pluralitas dan minoritas. ”Selama ini moderasi dikhawatirkan akan hilang pasca-Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Sekarang ternyata tidak dengan terpilihnya pengurus baru. Namun, yang menjadi tantangan cukup besar adalah bagaimana menghubungkan nilai moderat itu, terutama dengan pihak di luar NU,” katanya.

Dalam konteks itu, ujar Qasim, terutama untuk tingkat pelaksanaan, KH Said Aqiel harus menghitung aset yang dimiliki NU, antara lain kekuatan pesantren, kekuatan ekonomi, dan kekuatan organisasi. Kekuatan itulah yang kemudian diorganisasi untuk kepentingan masyarakat.

Terkait dengan terpilihnya KH Said Aqiel yang sebelumnya disebut ”direstui” pemerintah, Qasim menilai hubungan atau komunikasi dengan pemerintah atau kekuasaan itu sangat bergantung pada independensi KH Said Aqiel. Sebagai organisasi, sewajarnya membangun hubungan baik dengan semua komponen bangsa.

Menurut Kacung, KH Said Aqiel emang memiliki fleksibilitas yang tinggi. Sosok ketua dewan tanfidziyah yang baru itu mempunyai hubungan yang dekat dengan semua kelompok masyarakat.

Di Surabaya, Jawa Timur, Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Saifullah Yusuf menilai pasangan KH Sahal dan KH Said Aqiel adalah duet ideal untuk memimpin NU. Dengan terpilihnya keduanya, NU diharapkan dapat kembali memikirkan masyarakat dan tidak melarutkan diri dalam politik praktis.

Minggu, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif juga mengharapkan pimpinan PB NU hasil Muktamar Ke-32 NU di Makassar tetap bisa bersikap konsisten dan istikamah dalam memperjuangkan nasib masyarakat, terutama warga nahdliyin. Caranya, dengan berupaya meningkatkan kesejahteraan nahdliyin, terutama di daerah. (ssd/mzw/abk/dwa)

sumber : NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: