Oleh: aldyllah | Maret 28, 2010

Pengaruh negatif dari harta

Harta bisa membawa kepada berbagai kedosaan, dikarenakan sebagai sarana nafsu yang bermacam-macam. Seorang yang tidak mempunyai biaya untuk melakukan suatu kedosaan, hatinya tidak bergerak untuik melakukan. Timbulnya hasrat untuk berbuat adalah bila diri kita merasa sanggup, dan harta merupakan sumber kesanggupan yang menggerakkan orang kepada berbagai perbuatan maksiat dan perbuatan dosa. Jika menurutkan keinginan diri niscaya akan binasa, dan jika ditahan pahit terasa. Itulah sebabnya bersabar ketika sanggup adalah lebih berat, ujian senang lebih berat dari pada ujian susah.

Harta itu menarik kepada bermewah di bidang yang mubah. Mana bisa orang yang berharta hanya makan makanan yang sangat sederhana, berpakaian seadanya, seperti yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Kalau sudah terbiasa menikmati keduniaan dan membiasakan diri dengan kemewahan, lalu kemewahan menjadi kebiasaan dan hobby yang tak dapat ditinggalkan lagi, mungkin suatu saat akan tidak dapat membiayainya dari usaha yang halal. Maka terjerumuslah kita ke bidang syubhat dan terbenam dalam ria, berdusta, munafik dan timbul semua sifat dan ahlak tercela, agar urusan dunianya dapat terus dan dapat terus hidup mewah.

Orang yang banyak harta akan banyak pula kebutuhannya/ketergantungannya kepada orang lain, dan barangsiapa yang memerlukan orang lain bisa terpaksa harus ambil muka kepada terhadap mereka. Dari ketergantungan/keperluan terhadap orang lain, timbullah
persahabatan dan permusuhan yang dapat menjadi sumber iri, dengki, ria, sombong, berdusta, hasud, fitnah, bergunjing dan semua dosa hati dan dosa lidah, yang selanjutnya dapat menular ke seluruh aspek. Semuanya itu timbul dikarenakan harta dan didesak kepentingan dalam menjaga dan mengurusnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa mengurus harta itu menyebabkan orang lalai dari mengingat Allah, dan setiap hal yang mengganggu dari mengingat Allah adalah suatu kerugian.
Nabi Isa a.s. menerangkan bahwa dalam berharta terdapat 3 macam bahaya :
· Diambil dari sumber yang tidak halal.
· Jika diambil dari sumber yang halal, dibelanjakan tidak pada tempatnya.
· Jika dibelanjakan pada tempatnya, kita akan terganggu dari mengingat Allah karena mengurusnya.

sumber : Imam Syafii Ilmu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: