Oleh: aldyllah | Maret 25, 2010

Gus Sholah: NU Terbesar tetapi Belum Menjadi yang Terkuat

NU merupakan organisasi massa (Ormas) Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Dengan jumlah jamaah mencapai 80 jutaan orang, semua pihak mengakui kebesaran NU. Namun sayangnya kebesaran tersebut belum diimbangi oleh kekuatan managerial yang dibutuhkan, sehingga hingga kini NU belum menjadi yang terkuat.

Demikian diutarakan oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) kepada NU Online di sela-sela mengikuti pembukaan Muktamar ke-32 NU di Celebes Convention Center (CCC), Makassar, Selasa.

Gus Sholah yang juga salah seorang kandidat Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2015 yang namanya banyak diperbincangkan dalam bursa, mengemukakan, ke depan NU perlu melakukan pembenahan di segala bidang agar ormas yang didirikan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ary tersebut dapat tampil sebagai yang terbesar sekaligus yang terkuat.

“Bila NU menjadi yang terkuat, posisi tawarnya dalam berbagai bidang kehidupan akan kuat, sehingga akan memudahkan dalam memperjuangkan berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi umat,” kata ulama yang menamatkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Menurut mantan Wakil Ketua Komnas HAM tersebut, penyebab lemahnya posisi tawar NU yaitu kantaran belum mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki.

“Potensi yang dimiliki NU luar biasa. Namun sayang belum tergarap dengan baik. Kalau berbagai potensi yang ada digarap secara profesional dengan melibatkan pakar di bidangnya, maka NU akan menjadi kekuatan yang dahsyat. NU akan mampu bderbicara banyak dalam memberdayakan masyarakat,” papar Gus Sholah.

Gus Sholah melanjutkan, ia mengajak para muktamirin untuk memikirkan hal tersebut, karena bersifat strategis dan mendesak. “Saat ini warga NU belum banyak tersentuh, sementara mereka sangat membutuhkan uluran tangan NU,” tegasnya.

Karena itu Gus Sholah menyatakan tekadnya untuk memperkuat berbagai sektor yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, yakni pendidikan,gi perekonomian, pertanian dan kesehatan, bila dikehendaki muktamirin untuk memegang tampuk kepemimpinan PBNU ke depan.

“Kalau muktamirin menghendaki saya menjadi Ketua Umum PBNU, saya akan membangkitkan berbagai sektor yang berhubungan dengan hajat hidup langsung orang banyak. Dengan begitu manfaat keberadaan NU akan semakin dirasakan masyarakat,” terangnya. (hir)

Islam Liberal Tak Bisa “Nyalon” Ketua Umum PBNU
Rabu, 24 Maret 2010
Makassar, NU Online
—————————————————————–

Tokoh yang terlibat Jaringan Islam Liberal (JIL) dipastikan tidak bisa maju sebagai calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Rapat pembahasan dan penetapan tata tertib dan acara muktamar Muktamar NU ke-32 di Makassar, Selasa, memutuskan salah satu syarat ketua umum adalah tidak terlibat JIL.

Persyaratan berikutnya antara lain tidak terlibat organisasi yang ajarannya bertentangan dengan NU, pernah menjadi pengurus NU atau badan otonom setidaknya empat tahun, dan tidak sedang menjabat pengurus harian partai politik.

Sebelumnya dalam draft tata tertib, untuk syarat calon ketua umum tidak mencantumkan soal JIL dan organisasi yang dinilai bertentangan dengan NU.

Namun atas usul dari peserta rapat dan disetujui seluruh peserta rapat, KH Hafidz Utsman selaku pimpinan sidang pun mengetok palu mengesahkan persyaratan itu.

“Nanti syarat tambahan itu akan disebutkan secara eksplisit dalam tata tertib,” kata Kiai Hafidz usai rapat.

Ulil Absar Abdalla, salah seorang tokoh JIL yang mengajukan diri sebagai calon ketua umum ketika dimintai komentarnya menyatakan belum yakin persyaratan itu sudah disahkan.

“Biasanya tata tertib pemilihan dibahas dan diputuskan satu hari sebelum pemilihan. Mungkin itu baru menampung usulan saja,” katanya.

Sebaliknya, persyaratan calon itu memberikan peluang kepada Slamet Effendy Yusuf untuk mengikuti perebutan jabatan ketua umum PBNU.

Sebelumnya Slamet pernah mengeluhkan draft persyaratan calon ketua umum yang membatasi calon hanya boleh bagi mereka yang pernah menjadi pengurus NU di tingkat pengurus besar dan pengurus wilayah tanpa mencantumkan badan otonom. (mad)

sumber : NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: