Oleh: aldyllah | Maret 25, 2010

Serba – Serbi Muktamar NU

KH. Maemun Zubeir: Jangan Ada Perselisihan di Muktamar.
Rabu, 24 Maret 2010
Makassar, NU Online
———————————————————————-

Muktamar ke-29 NU di Cipasung yang menimbulkan carut marut perselisihan antara Abdurrahman Wahid dengan Abu Hasan, jangan sampai kembali terjadi di Muktamar ke-32 Makassar. Pasalnya, akan berakibat kurang baik. “Kedepankan persatuan dan kesatuan, kejadian Cipasung jangan lagi terjadi,” ungkap KH Maemun Zubeir pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Lasem, Rembang di arena Muktamar ke-32 NU di Makassar, Rabu (23/3).

Menurut Maemun, mengaca pada pencerminan perjalan NU, pada hakekatnya adalah perjuangan memperkuat kekokohan dan kemerdekaan bangsa. Seperti terungkap pada angka-angka perlambang di logo NU. NU adalah NU cerminan perjuangan bangsa. Lambang NU yang semula tidak ada talinya dilengkapi tali dan bintang.

“Jadi bila ada perselisihan harus diutamakan yang mendekati satu. Artinya, mendekati kebenaran yang haq. Kalau ada yang mendekati satu, itu yang diutamakan,” ujarnya.

Lebih lanjut Kiai Maemun menjelaskan, NU ditulis dengan huruf Arab. Dari lambang tersebut, bisa dipetik kalau tulisan Nahdlatul Ulama dalam bahasa Arab, ada 11 dan 6 huruf, tali tidak boleh kencang seperti angka 8, bintang 4 dan 5 sebagai Nabi, Khulafaur Rasyidin dan imam madzhab fikih. Kesemuanya memiliki isyarah masing-masing.

“Tali yang tidak kencang, melambangkan kalau Islam NU, Islam Indonesia jangan keras-keras. Jangan yang mengarah pada kekerasan. Karena Islam yang santun adalah yang lebih cocok dengan Indonesia,” terangnya. (was)

———————————————————————
Wibawa Mbah Sahal
Rabu, 24 Maret 2010
Makassar, NU Online
———————————————————————

Pada Selasa malam (23/3) muktamirin mengikuti sidang pertama yakni Sidang Pleno membahas Tatib Muktamar. Sidang pleno pertama tersebut dipimpin oleh KH. Hafidz Usman dibantu oleh unsur dari PBNU. Begitu sidang dibuka, muktamirin langsung berebut tanggapan. Suasana bertambah gaduh ketika peserta mulai saling memotong pembicaraan.

Suasana gaduh tersebut berangsur reda dan tenang begitu Rais ‘Aam PBNU, KH MA. Sahal Mahfudz memasuki arena Sidang Pleno. Dari situ kelihatan aura wibawa Kyai Sahal masih sangat besar di hadapan warga NU peserta Muktamar. Namun begitu kyai Sahal meninggalkan arena Sidang Pleno, forum kembali gaduh.

Kegaduhan karena berebut untuk berbicara itu ditanggapi sebagian peserta sebagai hal wajar yang demokratis asal tidak anarkis. Namun tak urung juga membuat hal itu dikritik oleh sebagian yang lain. “Gaduh begitu apa karena banyak lihat TV,atau seperti perilaku DPR,” tanya seorang peserta.

Namun di luar hal tersebut, kehadiran Kyai Sahal menepis desas-desus yang selama ini berkembang bahwa kesehatan Kyai Sahal tidak memungkinkan lagi untuk menduduki Rais ‘Am PBNU dan kehadiran beliau ini juga menepis anggapan bahwa Kyai Sahal tidak aktif atau pasif. Padahal kenyataannya adalah tidak,beliau masih sehat wal ‘afiyat dan berwibawa di mata muktamirin. (mus)

sumber : NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: