Oleh: aldyllah | Maret 24, 2010

Kualitas Nahdliyin Tantangan NU.

Jembatan Pemersatu Umat
Tantangan terbesar Nahdlatul Ulama (NU) di tengah kompleksnya masalah kehidupan keumatan adalah kualitas organisasi dan sumber daya manusianya sendiri. Dunia yang seolah semakin tidak berbatas menantang nahdliyin NU harus mampu membentuk karakter berdaya saing.

Betapa tidak, globalisasi tidak saja hanya merambah sektor perekonomian, tetapi juga sudah menyentuh kehidupan sosial, politik, ideologi, kebudayaan, bahkan kehidupan umat dan keberagamannya. Ketua Tanfidziah NU Sulsel, Zein Irwanto, mengemukakan, Indonesia sebenarnya bisa menjadi sebuah negara yang sangat besar. Tidak saja dilihat dari luas wilayah, tetapi juga jumlah penduduk dan kekayaan alamnya.

Sayangnya, besarnya potensi yang dimiliki belum mampu dimanfaatkan lebih maksimal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Indonesia masih kalah dengan negara tetangga yang memiliki potensi sumber daya alam maupun manusia yang jauh lebih kecil. NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia memiliki peranan menggerakkan masyarakat sipil untuk lebih meningkatkan kualitas hidupnya.

Salah satu upaya menggerakkan masyarakat mencapai kehidupan yang dicita-citakan, Zein Irwanto menekankan perlunya pemberdayaan umat melalui strategi pendidikan pesantren maupun non pesantren. Organisasi yang menyentuh lapisan masyarakat hingga akar rumput ini memang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan pesantren. Kedua-duanya membentuk watak dan karakter religius sekaligus peka terhadap perkembangan kondisi kekinian masyarakat.

Tak dapat dipungkiri, semakin banyak orang cerdas yang lahir di muka bumi ini. Zein menyarankan, pada intinya yang harus ditekankan oleh NU kepada seluruh nahdliyin adalah pengamalan ilmu berdasarkan rasa takut pada Allah. “Banyak ilmuwan, tetapi belum tentu mengamalkan ilmunya di jalan kebenaran dengan mengedepankan rasa takut kepada Allah,” katanya.

Prof Mochtar Nurjaya mengemukakan, ke depan, Ormas Islam NU harus mampu menjadi jembatan dan pemersatu keberagaman. NU tak boleh menjadi organisasi eksklusif yang meninggalkan umat dengan perbedaannya. Organisasi Islam di Indonesia terbilang sangat banyak. Namun, perbedaan itu bukan untuk membuat sesama umat Islam terpecah, justru diharapkan toleransi. Di sinilah peranan NU sebagai kekuatan sipil masyarakat untuk menyatukan setiap perbedaan tersebut. (Fajaronline/rif)

http://www.gp-ansor.org/berita/kualitas-nahdiyin-tantangan-nu.html

sumber : NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: