Oleh: aldyllah | Maret 20, 2010

Kisah Taubatnya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Ulama Wahabi dan Guru Dari Syekh Utsaimin (Ul

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin”ulama Wahhabi kontemporer yang sangat populer-, mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi , yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di.

Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahhabi. Meskipun Syaikh Ibnu Sa’di, termasuk ulama Wahhabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda Abuya al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjid al-Haram bersama halqah pengajiannya. Sementara di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk. Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah shalat dan thawaf yang mereka lakukan.

Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung yang menggelantung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan airnya dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut, dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah SWT.

Akhirnya para polisi pamong praja itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu, “Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik.”
Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera berhamburan menuju halqah al-Imam al-Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dan menanyakan prihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk melakukannya.

Akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi baduwi tersebut. Bahkan mereka berkata kepada para polisi baduwi itu, “Kami tidak akan memperhatikan teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”

Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi baduwi itu pun segera mendatangi halqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka. Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit menghampiri halqah Sayyid ‘Alwi dan duduk di sebelahnya.

Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Dengan penuh sopan dan tatakrama layaknya seorang ulama,

Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi: “Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?”

Sayyid ‘Alwi menjawab: “Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”
Syaikh Ibnu Sa’di berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Sayyid ‘Alwi menjawab: “Karena Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً
Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah”

Allah SWT juga berfirman mengenai Ka’bah:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi: “Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”

PERHATIKAN KATA DIATAS, BAGAIMANA SAIKH IBNU SA’DI ” KAMI BISA LALAI DENGAN DUA AYAT TERSEBUT”

Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di: “Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik.

Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan orang dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang yang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu, lalu ambillah air di situ di depan para polisi baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”

Akhirnya mendengar saran Sayyidn ‘Alwi tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya.

Melihat tingkah laku Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi baduwi itu pun pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu. Semoga Allah SWT merahmati Sayyidina al-Imam ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani. Amin.

Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.

Sumber:   NU ONline


Responses

  1. itu namanya bukan taubat, dr mana bisa dikatakan Syekh Sa’di berbuat dosa sehingga harus taubat, jika sekiranya kisah itu Shahih , itu hanya menunjutkan bahwa ijtihad antara 2 guru itu, judul artikel ini bernada ingin menjelek2 kan Syekh Sa’di, coba antum baca kitab2 Syekh Sa’di dan muridnya Syekh Utsaimin, baru antum bisa menilai apakah mereka harus bertobat karena pemikiran beliau yg berdasarkan dalil Al Quran dan As sunnah. Dari nada tulisan antum terlihat antum tdk menyukai dakwah Ahlul Sunnah wal Jamaah , atau Salafi atau orang2 yg tdk suka menyebutnya Wahabi, coba antum simak kitab salafi yg membahas tentang Tauhid dan Bid’ah dgn hati lapang tdk ada rasa dengki, antum baca dan renungkan, tdk ada yg penyimpang dari Al Quran dan Sunnah yg diajarkan Nabi Mumammad kepada para sabahatnya yg kita di suruh tuk mengikuti 3 generasi terbaik umat ini.

  2. boong

    • coba antum baca skali lg dg hati yg ikhlas…
      syukron…

  3. setau ane air hujan emang berkah

    rasulullah pernah mengambil berkah saat hujan turun.

    ada masalah apa ?

    ————————————-
    salam hangat dari seorang wahabi ^ ^

    • alkhamdulilah akhi…..
      allah robb kita…..
      muhammad rosul kita…..
      al quran kitab kita…..

      perbedaan diantara umat muhammad adalah rohmat…..
      jangan buat rohmat ini jadi mudhorod yang bisa menghancurkan kita hanya karena perbedaan faham…..

  4. assalamu’alikum wr. wb
    bismillahhirrohmanirrohim
    aku bersaksi bahwa tiada yang disembah kecuali Allah dan nabi muhammad SAW adalah utusan Allah.
    wahai kaum muslimin jangan terpancing dengan suana kemodhorotan. namun kembalilah kepada ketauhidan. guru yang awal dan terakhir hanya Allah SWT.bahkan awalnya tidak memiliki permulaan dan akhirnya tidak memiliki penghabisan. Dialah sumber sebab musabab.coba antum baca surat alfatihah ayat 6-7. bukankah itu bentuk penyerahan antara mahluk dan kholik.
    bukankah alquran itu adalah petunjuk. inilah rahman dan rohiemNya.
    matilah dalam iman dan takwa.
    ambillah sisi positif dari cerita itu.bahwa kedua ulama tersebut tunduk pada kalamullah. yang disebut takluk dalala wajib..
    tafakurilah..
    wallallohu’Alam

    • saya setuju dengan yang antum utarakan akhi…….
      bagaimanapun kita perdebatkan aqidah masing2 dri kita, niscaya tak kan ada pernah habisnya….
      karena muhammad SAW pernah berkata bahwa : perbadaan diantara umat Nya adalah rohmat…..
      maka dari itu kita jaga aqidah yang kita bawa masing2 ini dengan penuh rohmat…..
      syukron katsiro akhi

  5. berlombalah menjadi umat yg bertakwa,bukan menjadi manusia yg pandai mencari2 kekurangan masing2,percayalah bahwa manusia yg bertakwa pada ALLOH SWT /ROSULNYA itulah manusia yg akan selamat dunia akherat.AMIIIIIIIIIINNNNNNN………….!

  6. Asslmkm..duuh akh,coba antum baca kitab Al-Maudhuu’at krgn Ibn Juuzi bahwa prasangka kepada sebuah batu akan mmberi kemanfaatn pada kita adalah hadits bathil,mmg ka’bah scra syar’iyyah adlh benda yang suci krn dia adalah kiblat muslimin tp scra dztiyyah tetp batu biasa.gak bsa mndtagkn berkah..Adapun ayat Al-Baqarah tentang ka’bah tadi tafsirnya bukan ka’bah mndatangkn berkah.tapi yang dimaksud adalah Bakkah/Makkah Al Baladil Amien.Allah menurunkan keberkahan lahir pd kota itu dengan lahirnya Nabi Muhammad dan Allah pun menyuburkan kota itu..Coba antum baca Tfsir Ibnu Ktsier atau Tfsir Dur Al Mantsur..Syykron

  7. Kemudian hadits ” Peerselisihan umatku adalah Rahmat ‘ coba lihat Takhrij Ihya ulumuddin karangn Al Hafiz Al ‘Iraqiy hadits itu dikomentsri” lam ajid lahu ashlan ” alias tdk ada asalnya. Jika kita mau mengamlakn hadits coba naqdul hadits dulu,jka jelas gk ada asalnya.Itu dari furu’ hadits dha’if jiddan. Minimal hadits yang mau kita jadikan hujjah adalah hadits hasan lighoirih..itu pun jika syawaahid haditsnya banyak. coba bisa antum buka di kitab Syarah Alfiyyah Al’iroqiy fi ‘uluumil hadist.

  8. satu lagi akhiy..masalah aqidah tak boleh diperdebatkan.Dalailnya Itu mesti qoth’iyyul wuruud wad dalaalah.Low masalah furuu’iyyah itu yang suka ada khilaf. Namun ttp akhiy “Almushiybu fil ijtihaad waahid” “yg bernilai benar dalam ijtiha hnya satu “.Disni prlu kita sikapi khilaafiyyah itu. Nmun jangan sampai mazhab membuat kita fanatik dengan qaul ulama..Hindari sifat ta’aashhub dalam bermazhab.
    From : Sumarna El-Azhariy

  9. Segeralah antum bertobat dari pemikiran NU antum
    nulis Alhamdulillah aja salah.

  10. Emang apa bedax wahabi dan suni


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: