Oleh: aldyllah | Maret 15, 2010

ONANI..??? dosa gak ya

Onani atau masturbasi dalam literatur fiqh kerap disebut dengan istilah istimnâ’ yang berarti usaha merangsang keluarnya sperma di luar senggama baik dengan media haram seperti memakai anggota sendiri atau dengan media sah (halal) seperti memakai anggota tubuh istri. Istilah istimnâ’ memiliki cakupan makna lebih spesifik dibanding dengan istilah imnâ’ atau inzâl. Imnâ’ atau inzâl bisa terjadi meski tanpa melalui rangsangan dan di luar kesadaran (mimpi), sedangkan istimnâ’ hanya terjadi dengan rangsangan dalam kondisi sadar. Rangsangan yang menjadi media istimnâ bisa melalui sentuhan, pandangan atau fantasi-fantasi pikiran.
Secara hukum, melakukan istimnâ dengan motif untuk melampiaskan gejolak birahi (istid’â’ asy-syahwah), maka secara umum diharamkan agama. Sabab tindakan demikian telah melampaui batas-batas seks yang dilegalkan. Allâh berfirman;

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ) 5 (إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ )6( فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ) 7
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. aL-Mu’minûn : 5-7)

Sedangkan onani yang dilakukan murni untuk meredam gejolak birahi (taskîn asy-syahwah), ulama masih berbeda pendapat. Menurut satu versi diperbolehkan apabila istimnâ dilakukan sebagai alternatif menghindari resiko dosa yang lebih fatal seperti khawatir zina. Versi lain dari Imâm Ahmad menyatakan, bagaimanapun onani hukumnya haram, sebab kekhawatiran zina akibat gejolak birahi masih bisa diredam dengan puasa atau mimpi tanpa harus onani. Sedangkan menurut Ibn Abidîn dari Hanafiyyah, istimnâ wajib dilakukan apabila menjadi satu-satunya solusi membebaskan diri dari perzinahan.

Versi yang memperbolehkan istimnâ dalam kondisi tertentu menyaratkan wujudnya tiga hal;

– Tidak memiliki lahan sah untuk melampiaskan seks baik isteri atau amat;
– Kondisi birahinya bergolak; dan
– Dilakukan semata-mata demi meredam gejolak birahi (taskîn asy-syahwah) dan bukan untuk melupakan nafsu birahi (istid’â’ asy-syahwah). Poin yang ketiga ini diperlukan nilai-nilai kejujuran hati seseorang sebagai bukti kesalehahan tindakannya.

Keharaman onani ini, tidak sama dengan keharaman berzina karena balasan orang yang berzina adalah mewajibkan had, dera, atau rajam (tergantung pelaku zina itu sendiri), sedangkan onani tidak sampai kepada had. Tetapi dita’zier, diberi hukuman dengan pukulan dsb menuruk kebijaksanaan hakim.

Tersebut dalam kitab Mirqotushu’udittashhiq fi syarhi sullamittaufiq sebagai berikut:

“Dan setengah dari pada ma’siat farji, adalah istimnaa’, dibaca dengan nun dan mad, artinya sengaja mengeluarkan mani dengan selain tangan wanita yang halal, isterinya maupun hamba sahaya perempuannya. Ada pun melakukannya (dengan perantara isteri atau hamba sahayanya), adalah jaiz/ wenang/ boleh.

Dalam Mirqatu Shu’udi at-Tashdiq, hal. 77, Al-Fadlil Asy-Syekh An-Nawawi Ats-Tsaniy, toko kitab Al-Hidayah (Jl. Sasak), Surabaya – Indonesia. ^_^
والاستمناءبالنون وبالمدأي تعمدإنزال المني بيدغيرالحليلةأي الزوجةأوالأمة أماهوبهمافجاءز

Fathul Mu’in hal.128 bab Hudud (باب الحدود), Al-‘Allamah Asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibariy, terbitan toko kitab Al-Hidayah, Surabaya – Indonesia.

فلا حد بمفاخذة ومساحقة واستمناء بيد نفسه أو غير حليلته، بل يعزر فاعل ذلك. ويكره بنحو يدها كتمكينها من العبث بذكره حتى ينزل لانه في معنى العزل
“maka tidak ada had (dera) karena melakukan muhafadlah (menggesekkan zakar ke paha), musafahah , onani (istimna’) dengan (tangannya) sendiri atau dengan selain yang halal (istri/budak, pen-) tetapi bagi pelakunya di takzir (dikenai sanksi),

dan dimakruhkan seumpama dengan tangan wanita yang halal, sebagaimana mempersilahkannya (wanita yang halal) untuk mempermainkan dzakar hingga mencapai inzal , sebab sesungguhnya itu termasuk kedalam pengertian ‘azl.”

Efek Onani

Menurut Syaikh Alî Ahmad aL-Jurjawy, di balik larangan agama terhadap perilaku onani secara medis terdapat hikmah (baca : efek) fatal yang kembali terhadap fisik dan psikis pelaku;

– Efek Fisik
Seseorang yang memiliki kebiasaan onani akan berakibat tubuhnya menjadi kurus, betisnya lemah dan kendor, kedua matanya cekung dan biru, aura wajahnya pucat, tangannya lemah, badannya gemetar ketika diajukan pertanyaan, kepalanya tertunduk dan menyebabkan organ seksnya lemah.

– Efek Psikis
Onani yang menjadi kebiasaan akan mengakibatkan seseorang berpemikiran rendah, berwatak dan bernaluri keras, dungu, ceroboh, emosional dan suka marah-marah hanya karena hal-hal kecil, egois, labil dan tidak memiliki prinsip teguh, jauh dari teman dan suka menyendiri.

sumber: NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: