Oleh: aldyllah | Maret 13, 2010

Aisyah Wahid: Saya Bersyukur Cita-cita Ibu Terwujud.

Pesantren Ciganjur yang telah dirintis oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah wujud dari diteruskannya cita-cita Ibu Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim yang telah dirintis sejak zaman KH Wahid Hasyim masih hidup. Demikian dinyatakan oleh adik perempuan Gus Dur, Ibu Hj. Aisyah Wahid dalam pertemuan antara pengurus Yayasan Waid Hasyim dengan santri-santri Pesantren Ciganjur di Kediaman keluarga Gus Dur, Sabtu (13/3).

“Saya bersyukur cita-cita ibu sudah terwujud, meski ini mungkin baru awalnya saja. tetapi saya berharap ini adalah awal yang baik. Alhamdulillah, semoga menjadi amal jariyah bagi ibu kami, ibu Sholichah Wahid,” tutur Nyai Hj. Aisyah Wahid.

Hadir dalam kesempatan siang hari tadi seluruh keluarga besar yang terdiri dari para anak (Hj. Aisyah, KH Salahuddin Wahid, dr. Umar Wahid dan Ibu Lily Chadijah Wahid), cucu (Alisa Wahid beserta para sepupu) dan cucu menantu serta cicit KH A. Wahid Hasyim.

Dalam Kesempatan tersebut Adik-adik Almarhum Gus Dur (KH Abdurahman Wahid/putera tertua KH A. Wahid Hasyim) menyatakan bahwa mereka semua sepakat untuk melanjutkan Pesantren Ciganjur yang telah dirintis mendiang Gus Dur bersama Ibunda Nyai Sholichah.

Selain itu, pihak keluarga juga memberikan kabar bahwa pengelolaan yayasan KH A Wahid Hasyim Sudah diturunkan kepada generasi ketiga (cucu KH A. Wahid Hasyim), dengan Atik binti Umar Wahid sebagai ketua dengan Ipang Wahid (Putera KH Shalahuddin Wahid) dan Alisa Qotrunnada Wahid (Puteri Sulung Gus Dur) sebagai wakilnya. (min)

Buku tentang KH Hasyim Asy’ari Dibedah di Tebuireng
Sabtu, 13 Maret 2010
Jombang. NU Online
=====================================

Ma’had Aly Pondok Pesantren Tebuireng pada Jumat (12/3) kemarin membedah buku terbaru karya Zuhairi Misrawi yang berjudul “Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keummatan, dan Kebangsaan.”

Dalam acara yang dipandu wartawan majalah Aula Rijal Mumazziq Z. ini, selain penulis buku, juga hadir Muhibbin Zuhri (dosen IAIN Surabaya) serta KH Mustain Syafii (pengajar Ma’had Aly Tebuireng yang juga ahli tafsir.

Menurut Zuhairi, ia tertarik mengulas pemikiran Kiai Hasyim karena saat ini Indonesia masih membutuhkan pemikiran-pemikiran pendiri NU tersebut. Sebab selain ditopang oleh al-Quran dan Hadits, pemikiran Kiai Hasyim juga tak melupakan khazanah keilmuan klasik. Selain itu, Kiai Hasyim juga telah membuktikan bahwa antara keislaman dan keindonesiaan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berada dalam satu nafas.

“Islam adalah nilai-nilai adiluhung yang bersifat universal, sedangkan keindonesiaan adalah realitas sosial yang harus diisi dengan nilai-nilai itu tanpa harus menafikannya,“ urai Zuhairi di hadapan sekitar 300 peserta. Maka, lanjutnya, adalah sebuah keharusan jika pemikiran-pemikiran Kiai Hasyim direlevansikan dalam realitas saat ini.

Sedangkan Muhibbin mengulas pemikiran Kiai Hasyim mengenai aswaja. Jika pada zaman Islam klasik, golongan Sunni lebih banyak berpolemik dengan kelompok Syiah maupun Muktazilah, maka pada zaman Kiai Hasyim, polemik lebih banyak bersinggungan dengan kelompok puritan Wahhabi. Menurutnya, kondisi pada zaman Kiai Hasyim tak jauh beda dengan realitas saat ini.

“Maka, menghidupkan ruh pemikiran Kiai Hasyim di bidang aswaja merupakan sebuah keniscayaan bagi kita semua,” terang pria yang baru saja meraih gelar doktor ini. Yang menarik, lanjutnya, adalah keberhasilan Kiai Hasyim dalam menginstitusikan ajaran Aswaja melalui sebuah organisasi bernama NU.

Meskipun senada dengan kedua narasumber di atas, KH Mustain Syafii lebih mengulas pribadi Kiai Hasyim. Ia menggambarkan kakek Gus Dur itu sebagai sosok yang sangat arif. Pakar tafsir ini mencontohkan sikap Kiai Hasyim yang kurang sreg mengenai tarekat dan haul. Meski demikian, Kiai Hasyim mengambil cara yang santun, elegan, dan tak sampai menimbulkan polemik di masyarakat saat itu.

“Sebagai kiai, beliau itu multi talenta. Sebab, selain bergelut menjadi penulis, organisator, ahli tasawwuf, beliau juga masyhur sebagai ahli hadits,” terang Kiai Mustain. Tak heran jika dnegan kemampuan beragam ini, sosok Kiai Hasyim menjadi rujukan para ulama pada zamannya.

Untuk itulah, kata Kiai Mustain, meneladani jejek langkah dan membumikan pemikirannya merupakan sebuah keharusan bagi generasi muda NU. “Terutama bagi kalangan santri Tebuireng,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan peserta.

sumber :  NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: