Oleh: aldyllah | Maret 11, 2010

Dilema Media Dakwah NU: antara tantangan dan harapan

Ada dua tantangan besar yang harus dihadapi NU menjelang satu abad nanti. Tantangan ini tidak hanya akan dihadapi oleh kalangan nahdliyin dalam skala makro (nasional) saja, melainkan dalam skala mikro (daerah) juga. Pertama, tantangan yang muncul dari luar kalangan Nahdliyin utamanya dari kelompok-kelompok Islam yang berjenis lain dan tidak sealiran dengan NU (Islam Puritan), seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Islamiyah, neo-wahabisme dan lain sebagainya dan Kedua, adalah tantangan yang muncul dari dalam komunitas Nahdliyin sendiri dalam kekuatan SDM, kesamaan fikrah, kesatuan gerak dan langkah, dan kejelasan visi dan misi yang diemban dalam pengembangan dakwah.

Tantangan pertama yang dihadapi NU adalah bahwa belakangan ini, kalangan Nahdliyyin sedikit risau dengan munculnya ajaran atau ormas Islam yang mengatasnamakan Ahlussunnah (namun yang dimaksud bukanlah Aswaja ala Nahdliyin). Mereka adalah kelompok yang mempersoalkan mazhab dan ijtihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah (aswaja) sebagai bid’ah dan khurafat yang mendekati syirik. Bagi mereka, mazhab dan kitab kuning itu tidak penting. Bagi Islam tradisi, mazhab, model ijtihad dan praktik-praktik keagamaan seperti tahlil dan manakib perlu dilestarikan karena sudah membudaya dalam kehidupan umat.

Ormas Islam yang mengkritik kalangan Nahdliyin (Islam Puritan/Salafy) berdakwah dengan menyerang dan bahkan mengolok-olok terhadap semua paham dan praktik keagamaan yang dilakukan Nahdliyyin. Nahdliyyin yang masih kental dengan tradisi Jawa dan nilai-nilai Budha/ Hindu diintimidasi dengan klaim sesat dan akan masuk neraka. Praktik keagamaan wong Jawa yang dipengaruh Kejawen, Hindhu dan Budha bukannya tidak dikhawatirkan oleh nahdliyyin. Sebagian praktik itu memang sarat ajaran animisme dan dinamisme, yang menjurus syirik. Ziarah kubur yang tidak jelas bacaan dan caranya misalnya, sangat membahayakan aqidah. Padahal ritual itu tidak mungkin dihilangkan sebab telah menjadi tradisi masyarakat. NU datang menjadi pembela tradisi mereka. Dimasukkanlah ajaran Islam dan disusun tata cara dan bacaan ziarah kubur (yasinan, tahlilan dan seterusnya) yang tidak melanggar Syari’at Islam.

NU, dalam perjalanannya, merupakan exemplar Islam jenis ini, memihak pada budaya setempat yang dianggap sebagai sebuah tradisi. Model dakwah Walisanga, bagi NU, dianggap metode dakwah yang apik dan patut ditiru. Persesuaian Islam dengan budaya lokal bukan bid’ah. Model dakwah Walisanga bersifat final. Sedangkan di pihak lain, kalangan Puritan (Salafy) menganggap sebagai serangkaian dakwah yang belum selesai. Islam Puritan melanjutkan dakwah Walisanga, bukan mengadopsi, dengan pembersihan Islam dari unsur non-Arab, mengembalikan Islam pada bentuk “aslinya”. Berbeda dengan NU, kelompok puritan menatap Islam dari sudut Arab-sentris. Segala bentuk budaya setempat yang merasuk ke dalam tubuh Islam tidak lain adalah penyelewangan. Dengan begitu, pemihakan kepada budaya lokal tidak lagi ditolerir, sebagai bid’ah. Islam harus “murni”. Kelompok ini akan sulit mengikuti zaman yang niscaya berubah. Bisakah model Islam yang menuntut serba “Arab” ini berkembang di satu tempat yang memiliki kebudayaan terbilang maju seperti Indonesia?, dan akan mudah diterima masyarakat setempat? Saya kira sulit, bahkan boleh jadi malah menciptakan kesan lain: kolot, Islam yang kaku dalam merespon perkembangan dunia. Gilirannya, Islam hanya akan dipandang dengan sinis. Alih-alih malah menjauhkan mereka dari Islam, bukan melihat sebagai agama yang mencerahkan.

Menjadi Islam ideal, dengan begitu, tidak harus menjadi puritan (salafi). Siapapun terbuka menjadi insan-kamil sebagaimana terbukanya wacana tentang kajian keislaman. Bahkan, menjadi Muslim ideal (insan kamil, kaffah, shalih) tidak bertentangan dengan hidup modern dengan menjauhinya: demokrasi, pluralisme, emansipasi wanita, dan lain-lain seperti yang diusulkan oleh Ulil Abshar-Abdalla lewat Islam Liberal. Di sinilah pentingnya penegasan, bahwa menjadi Muslim ideal tidak harus melepaskan budaya tradisi, dan tidak wajib terpisah dari lingkungannya. Dibutuhkan langkah penawaran dan pengenalan sebuah Islam yang bisa menjadi pribumi di manapun, Islam yang tidak perlu menjadi Arab.

Uraian di atas hanyalah contoh kecil bagaimana NU mengembangkan sintesa dakwah yang ramah terhadap budaya atau tradisi setempat. Terbukti cara dakwah demikian -yang mengikuti dakwah model penyebar Islam di Jawa, Walisongo- sangat efektif mengislamkan orang Jawa. Bagi orang Jawa, tradisi itu sama pentingnya dengan agama. Budaya dan agama tidak boleh saling bertentangan. Islam tidak anti-budaya. Budaya juga tidak anti-Islam. Dengan dakwah yang tepat, agama dapat mengislamkan budaya.

Tak hanya itu. Hal yang paling dikhawatirkan NU, adalah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 pun ikut terancam. Pasalnya, kuat disinyalir, kelompok Islam garis keras tersebut berkeinginan menjadi Indonesia sebagai negara Islam. Karenanya, selain peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah Aswaja ala NU, perlu ditegaskan kembali bahwa NU tetap pada komitmennya untuk setia menjaga keutuhan NKRI. NU tak ingin ada pihak-pihak tertentu yang mencoba mengusik keberadaan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Disamping tantangan yang sudah dijelaskan di atas, satu tantangan lagi yang menjadi pekerjaan rumah Nahdliyin adalah tantangan yang berasal dari intern nahdliyin sendiri. Tantangan dakwah jenis ini sungguh sangat tidak mudah diberantas bila seluruh unsur dari kalangan nahdliyin tidak kembali ke jalan yang telah dirumuskan oleh para founding fathers kita terdahulu.

Diantara sekian banyak tantangan tersebut adalah, bahwa kegiatan dakwah di kalangan NU lebih banyak bertumpu pada peran individu. LDNU belum mengoptimalkan aktivitas ini. Dakwah di lingkungan NU masih bersifat perorangan, jarang terorganisir . Pada saat sekarang, bolehlah, NU sudah mulai merambah medan dakwah yang lebih luas, dan terkonsentrasi. Dakwah, bagi NU sebagai Jam’iyyah, merupakan bagian integral. Dan, perekat warga sebagai Jama’ah. NU memiliki kultur kuat berdakwah. Sebagai sebuah tradisi, dakwah sangat lekat di kalangan NU. Bahkan, beberapa tradisi hidup lain dijadikan sarana dakwah.

Boleh jadi para da’i NU memiliki kesamaan fikrah dalam usaha-usaha dakwah, namun disisi lain bila tak memiliki kesamaan visi dan misi serta kesatuan gerak langkah (tidak terorganisir) maka lambat laun langkah-langkah NU sebagai jam’iyyah akan merosot dengan tajam. Akhirnya, slogan yang selama ini dijunjung tinggi oleh komunitas NU (al-muhafadloh ‘ala qadimi al-sholih) akan hilang tak berbekas. Coba bandingkan dengan gaya mereka (Islam Puritan) dalam menggaungkan dakwah Islamiyah, terorganisir secara rapi, para da’inya memiliki intregitas yang tinggi, memiliki kesamaan visi dan misi yang kuat dalam memperjuangkan dakwah mereka. Merekapun dengan kekuatannya mampu untuk mengalihkan pemikiran masyarakat muslim yang notabene mempertahankan tradisi hingga kemudian beralih menjadi menghilangkan tradisi. Kalau bukan kita (LDNU) sebagai ujung tombak dakwah ke-NU-an yang mampu membendung pergerakan kelompok-kelompok tersebut, siapa lagi???

Selain hal diatas, masih banyak diantara para da’i NU yang belum mampu menghadirkan argumen naqli dan aqli yang cerdas dan tepat untuk menjawab kritik yang dilontarkan oleh kelompok puritan semacam itu terhadap paham Aswaja. Masalahnya sendiri saja sudah berkategori ikhtilaf (beda pendapat), kalau tidak dijelaskan dengan tuntas maka praktik keagamaan nahdliyyin pasti akan hilang perlahan. Belakangan malah makin banyak anak-anak biologis nahdliyyin yang aktif di organisasi yang justru menyerang tradisi nahdliyyin.

Hal tersebut hanya merupakan beberapa contoh tantangan dakwah yang ada. Namun, apapun bentuk tantangan yang dihadapi dan dari manapun ia datang, semuanya akan bisa dilalui dengan mulus walopun sedikit beresiko yang berarti jika gerakan dakwah utamanya LDNU mempunyai kader-kader yang “mumpuni”, “tahan banting”, cekatan, tegap, tanggap dan sabar serta tulusnya niat yang baik. Serta yang paling utama adalah bahwa dalam menyikapi semua itu LDNU harus selalu memegang teguh manhaj dakwah NU ala ahlussunah wal jammaah, yakni tasamuh (toleran), tawazun (seimbang ) dan juga tawasuth (jalan tengah). Kita akan selalu berusaha menjadi ummatan wasathon (umat yang berada di tengah-tengah)

Itulah sebagian tantangan dakwah NU yang perlu dipikirkan bersama. Bukan sekedar untuk bertahan dari serangan ormas lain, tetapi lebih dari itu yaitu sebagai upaya untuk fastabiq al-khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan menyebarkan Islam secara damai.

Akhirnya, sebagai ormas berbasis dakwah sekaligus sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia yang berpaham Aswaja, NU dalam hal ini LDNU merasa perlu untuk segera melakukan gerakan-gerakan nyata dalam rangka penyelamatan terhadap paham yang sudah diyakini kebenarannya selama ini. Jika tidak, maka tidak ada jaminan dalam waktu sepuluh tahun mendatang ajaran moderat yang terkandung dalam Aswaja akan hilang dan tergantikan oleh paham yang lain.

Kultur keislaman NU penting untuk dipertahankan. Karakter NU adalah keislaman yang mampu memberikan rasa perdamaian dan keselamatan bagi semua umat manusia. Wallahu a’lam.

sumber : NU online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: