Oleh: aldyllah | Maret 9, 2010

KH. Sahal Mahfudz Diusulkan Kembali Jadi Rais Aam

Sejumlah pengurus syuriyah NU se-Indonesia yang berkumpul dalam acara silaturrahmi di pesantren Maslakul Huda Kajen Pati, Ahad mengusulkan agar KH Sahal Mahfud menjadi rais aam PBNU untuk periode ketiga kalinya.

Menanggapi permintaan tersebut, KH Sahal Mahfudh menegaskan secara prinsip beliau dapat memenuhinya dengan dua sayarat, NU tetap berpegang teguh pada Khittah Nahdliyyah dan prosesnya mengedepankan akhlakul karimah.

Seluruh peserta sepakat menjadikan lembaga syuriyah NU sebagai simbol penjaga tradisi keagamaan, karenanya dibutuhkan figus yang ‘alim sebagai rais ‘aam syuriyah.

Bahkan untuk model penetapan Rais Aam PBNU, KH Malik Madani, Katib Syuriyah PBNU yang dalam pertemuan silaturrahmi tersebut bertindak sebagai pemandu acara menegaskan, pimpinan syuriyah hendaknya tidak dipilih langsung dengan voting.

“Untuk penentuan Rais Aam lebih cocok jika menggunakan pola ahlul halli wal aqdi. Rais aam itu tidak diperebutkan tetapi diberikan kepercayaan”, ujarnya.

Untuk kepentingan penguatan syuriyah, ada yang mengusulkan agar syuriyah diberikan kewenangan untuk memberhentikan tanfidziyyah jika tidak mengikuti garis yang ditetapkan syuriyah.

Ketua Presidium Majelis Alumni Ikatan Pelajar NU Hilmi Muhammadiyah yang hadir dalam silaturrahmi tersebut menyambut baik kesepakatan para kiai pimpinan syuriyah NU untuk mengembalikan supremasi ulama melalui ahlul halli awal aqdi.

Menurutnya, NU harus dikendalikan oleh kepemimpinan ulama. Dalam khittah kelahirannya, ujar Hilmi, NU didesain sebagai organisasi yang mengedepankan supremasi ulama.

Untuk itu, fungsi dan peran syuriyah perlu dikuatkan sebagai pemegang otoritas tertinggi organisasi. “Dari segi namanya sudah jelas bahwa NU itu sebagai organisasi ulama. Ulamalah yang harus mengambil peran utama perjalanan organisasi,” ungkapnya.

Untuk itu, Majelis Alumni berharap ada sinergi seluruh kekuatan ulama NU untuk memberikan arah yang jelas dan tegas bagi kebijakan strategis organisasi.

Sebelumnya, di tempat terpisah Sekretaris Jenderal Majelis Alumni IPNU Dr. Asrorun Niam menegaskan bahwa reformasi sistem penetapan kepemimpinan NU sangat mendesak untuk dilakukan sebagai koreksi atas sistem yang berlaku selama ini, yakni dengan sistem voting satu delegasi satu suara. “Selama ini proses pemilihan hanya mengejar prosedural demokrasi namun luput dari substansi yang dituju.

Sistem ini melahirkan tirani kaum kapital yang meneggelamkan kewibawaan Ulama, di mana sang calon harus kasak kusuk memperebutkan suara terbanyak”, ujarnya. Dengan pola ahlul halli wal aqdi atau sistem formatur, tambahnya, semangat kebersamaan akan semakin terjaga dan fragmentasi akan terminimalisasi.

Sistem pemilihan langsung, menurut Niam tidak cocok dengan khittah organisasi yang mengedepankan supremasi Ulama. “Nilai yang dikembangkan NU dalam kepemipinan adalah amanah, sehingga nilai yang dominan adalah pengabdian atau khidmah. Prinsip pemilihan langsung dengan pencalonan diri akan kontraproduktif dengan nilai khidmah dalam kepemimpinan NU ini,” ujar Niam. (mad)

KH. Sahal Mahfudh: Syuriyah Bukan Sekedar Pengawas.
Jelang Muktamar NU
Ahad, 7 Maret 2010
Pati, NU Online
=====================================

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfudh menegaskan, syuriyah dalam struktur kepengurusan NU adalah pemimpin yang menentukan arah dan gerakan organisasi, bukan sekedar pengawas kerja tanfidziyah.

“Kalau cuma mengawasi saja ya nggak ada fungsiya apa-apa, kenapa jadi syuriyah?” kata Kiai Sahal saat memberikan taushiyah dalam acara silaturrahmi Rais Syuriyah dan Para Kiai di Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso Pati, Ahad (7/3).

Kiai Sahal mensinyalir adanya upaya-upaya untuk mengebiri peran Syuriyah dalam NU. “Syuriyah ini sepertinya akan semakin dikebiri. Apakah bapak-bapak ini mau dikebiri?” kata Kiai Sahal kepada para pengurus syuriyah dan kiai yang hadir.

Kiai Sahal dalam kesempatan itu menegaskan bahwa NU adalah harakat ulama (gerakan ulama) bukan harakat siyasah atau gerakan politik. Maka berbagai kegiatan yang diselenggarakan NU tidak tergantung pada politik praktis.

“NU ini apa adanya, tidak neko-neko termasuk dalam perjuangan. NU ada dan untuk selalu bergerak, tidak berhenti,” tambah Kiai Sahal. Acara silaturrahim rais syuriyah dan para kiai di Pesantren Kiai Sahal ini mengambil tema “Peran Sentral Kealiman Syuriyah NU, Menjaga dan Mengarahkan Jamiyah”

Acara ini dihadiri Rais Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin, Mustasyar PBNU KH Musthofa Bisri, Wakil Katib Syuriyah PBNU KH Malik Madani, Mustasyar PWNU Sumatera Barat Buya Bagindo Letter, Tokoh NU Cirebon Abah Ayip, perwakilan Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan, Riau, Sumatra Selatan, dan dan perwakilan beberapa pengurus cabang dari luar Jawa. Mustasyar PBNU AGH Sanusi Baco, tokoh NU dari Makassar dalam kesempatan itu diwakili putranya Dr Nur Taufiq

sumber : NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: