Oleh: aldyllah | Februari 16, 2010

Kiai Bukan Gelar, Tapi Ungkapan Kehormatan

Keinginan Forum Pengasuh Pesantren dan Habaib se Jawa dan Madura agar gelar kiai hanya diperuntukkan bagi mereka yang menjadi pengasuh pesantren cukup menggelitik. Rais syuriyah PBNU KH Hafidz Utsman menanggapinya dengan tertawa ketika ditanya mengenai masalah ini.

“Kiai itu bukan gelar, tetapi ungkapan kehormatan santri kepada gurunya,” katanya kepada NU Online, Senin (15/2).

Kiai merupakan gelar kehormatan bagi sesuatu yang luar biasa yang diberikan oleh suku Jawa. Bukan hanya kepada manusia, gelar kiai juga disandangkan kepada kerbau milik Kasunanan Solo, dengan nama Kiai Slamet, yang dianggap keramat yang setiap bulan Maulud diarak keliling kota.

Setiap suku memiliki gelarnya sendiri-sendiri untuk tokoh agama yang dihormatinya, di Sunda disebut Ajengan, di NTB di sebut Tuan Guru, di Kalimatan di sebut Muallim, dan lainnya.

“Makanya jangan dipersulit, biar saja, orang juga tahu mana yang pantas mendapat gelar kiai dan tidak,” tuturnya.

Ditambahkannya, secara struktural memang terjadi perluasan penggunaan gelar kiai, khususnya di kalangan pesantren. Pada masa lalu, gelar ini hanya diberikan kepada para pengasuh pesantren yang mengajar ngaji kepada para santri, tetapi saat ini, para pengelola pesantren, meskipun tidak mengajar ngaji, tetapi karena mengatur para kiai yang memberi pelajaran pada santri akhirnya juga dinisbahkan dengan julukan itu.

Penggunaan gelar ini tak ada bedanya dengan sebutan ustadz bagi guru agama. Dijelaskannya, kata-kata ustadz berasal dari bahasa Persia yang artinya guru besar, yang kemudian dimasukkan dalam bahasa Arab dan akhirnya menyebarluar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.

Ditanya mengenai rencana pengurus Muhammadiyah untuk menyematkan gelar kiai kepada para juru dakwahnya agar lebih bisa diterima dikalangan masyarakat, Hafidz Utsman mempersilahkan saja karena gelar ini tidak dapat diklaim sebagai milik kelompok tertentu.

Pembahasan mengenai gelar kiai ini dilakukan oleh sekitar 50 orang kiai yang hadir di pesantren Lirboyo, Ahad (14/2). Mereka menyepakati hukumnya haram kepada seseorang yang menyebut atau disebut sebagai kiai, namun tidak memiliki pondok pesantren dengan mengacu pada hasil Bathsul Masail, yang digelar Makkah.

“Kiai itu harus mempunyai pondok pesantren. Kalau tidak, maka haram hukumnya. Hasil Bathsul Masail yang digelar di Saudi Arabia,” kata Pengasuh Ponpes As-Somadiyah, KH Sofiyullah.

Diakui KH Sofiyullah bahwa seluruh kiai yang hadir dalam forum di Lirboyo Kediri tidak ada yang membantah mengenai keputusan Bathsul Masail dari Makkah tersebut. (mkf)

sumber: NU Online


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: