Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

Apabila anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.

Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud). Baca Lanjutannya…

Dalam upaya mengenang tokoh terbesar dalam sebuah golongan, kita sering menemukan berbagai peringatan-peringatan yang diselenggarakan untuk mengenang jasa dan meneladani tindak lampahnya. Contoh kecilnya, di negara kita Indonesia, terdapat sebuah peringatan kelahiran Ibu Kartini, Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pahlawan dan peringatan-peringatan lainnya yang dijadikan sebagai hari besar negara.

Nabi Muhammad SAW, sebagai utusan Allah ke muka bumi ini, yang dengan dakwahnya, kita dapat merasakan nikmat iman dan islam merupakan sebuah tokoh yang seharusnya lebih berhak untuk diteladani dan dikenang jasa-jasanya. Maulid Nabi Muhammad (hari Kelahiran Nabi Muhammad) tentunya lebih pantas diperingati oleh umat Islam dari pada hari kelahiran Ibu Kartini, hari ulang tahun kita sendiri (Ultah) atau yang lainnya yang jelas-jelas kepribadian dan kedudukan beliau tidak sebanding dengan umatnya.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah “kasus” dari sekian banyak “kasus” yang sering menjadi sasaran pembid’ahan oleh kelompok-kelompok tertentu. Dengan sebuah dalil bahwa peringatan semacam itu tidak pernah ada di zaman Nabi. Man Ahdatsa fi Amrina Hadza Ma Laisa minhu fahuwa Roddun – Khoirul Hadits Kitabullah wa Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Wa Syarrul Umur Muhdatsatuha wa kullu Bid’atin Dlolalah Wa Kullu Dlolalatin Fin Nar.

Klaim bid’ah terhadap sebuah golongan atau individu yang memperingati maulid merupakan sebuah “lagu lama” yang tidak bisa dihindari. Hal itu bersumber dari pemahaman sebuah hadits Nabi yang sering dibaca oleh para khatib dan penceramah di setiap prolognya. Dari pemahaman terhadap nash tersebut, akhirnya muncullah berbagai pendapat yang berlawanan. Dalam Fiqh Ikhtilaf (Fiqh Perbedaan), dikatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah perbedaan pandangan dalam memahami sebuah nash. Jadi pantas kalau dalam memahami hadist bid’ah tersebut terjadilah perbedaan pendapat antar ulama.

Dalam hal ini, ada sebagian yang berpendapat bahwa Bid’ah ada yang hasanah (baik) dan sayyiah (jelek). Pendapat ini banyak menuai kritikan, bahkan ada yang menuduh bahwa pendapat itu merupakan pendapat yang menyesatkan, sebab telah menyalai dan menyimpang dari sabda Nabi SAW yang dikatakan secara jelas bahwa “ kullu Bid’atin Dlolalah” setiap bid’ah adalah dlolalah (sesat).
Namun anehnya, di satu kesempatan, sebagian yang lain berpendapat dan mengklaim bahwa pendapatnya merupakan sebuah solusi dari sekian pendapat masalah bid’ah yang ada. Tidak mengakui pembagian bid’ah hasanah dan sayyi’ah namun berpendapat dan memakai istilah lain, yaitu bahwa bid’ah ada yang bersifat diniyah (agama) dan ada yang bersifat dunyawiyah (dunia). Ketika mereka tidak menerima dan mengatakan bahwa pembagian bid’ah ada yang hasanah dan sayyiah adalah sebuah kebid’ahan karena tidak bersumber dari syari’, maka pembagian bid’ah dunyawiyah dan diniyah juga merupakan sebuah kebid’ahan bahkan lebih bid’ah daripada apa yang mereka tuduhkan.

Terlepas dari itu, Maulid nabi Muhammad SAW adalah sebuah fenomena yang masih tetap diperbincangkan masalah hukum memperingatinya. Bagi golongan yang mengatakan bahwa peringatan maulid hanyalah kegiatan biasa untuk menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual (ibadah) sehingga dapat dikategorikan bid`ah hasanah dan bukan bid’ah yang terlarang, sampai kini mereka tetap eksis menyelenggarakan peringatan maulid Nabi setiap tahun.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia mungkin bisa dijadikan contoh dalam masalah maulid. Ormas-ormas yang ada pun juga berbeda pandangan dalam hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.Ada yang menerima dan memperingatinya seperti Nahdlatul Ulama’ dan ormas-ormas yang sependapatnya dan juga ada yang menentangnya dan mengatakan bahwa peringatan maulid adalah bid’ah. Baca Lanjutannya…

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya:

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).

Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT:
Baca Lanjutannya…

Ada golongan muslimin yang mencari-cari keringanan dari para ulama atau mencari ajaran Islam yang paling mudah dan paling ringan serta cocok dengan keinginan hawa nafsunya dan tujuan pribadinya tanpa didasarkan pada keterangan yang benar menurut syari’at Islam. Mereka sering berdalil bahwa suatu masalah dalam agama (yang mereka hadapi itu) masih belum disepakati para ulama, oleh karenanya mereka tidak dapat disalahkan secara mutlak.

Ada beberapa orang yang pura-pura mengikuti pendapat para ulama, tetapi dia kemudian berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain atau dari satu pendapat ke pendapat lain untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. Meskipun dia menutup-nutup dirinya dengan pengamalan syariat dan mengikuti para ulama, tetapi sebetulnya mereka hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri.

Orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya ini telah disindir dan dicela oleh Allah swt. dalam beberapa firman-Nya :

Dalam QS Shad : 26 : “..dan janganlah kamu mengikuti hawa (nafsu), karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah “.
Baca Lanjutannya…

Oleh: aldyllah | September 24, 2010

Larangan Menyingkap Aib Orang Lain

Ketahuilah, bahwa seseorang tidak dibolehkan membukakan cacat (aib) orang lain yang tersembunyi agar ia dapat mengingkarinya jika ternyata benar. Bahkan melakukan yang demikian itumerupakan larangan sebagaimana firman Allah Ta`ala :
وَلًاتًجَسَّسُوْا
“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”
(QS:Al-Hujurat:12)
Sabda Rosulullah Shollallohu `Alaihi Wa Alihi Wasallam:
مَنْ يَتَتَبَّعْ عَوْرَةَاَخِيْهِ يَتَتَبَّعِ اللهُ عَوْرَتَهُ
“Barangsiapa mengintip rahasia saudaranya, maka Allah akan mengibtip rahasianya pula”
Yang diwajibkan hanyalah menyuruh berbuat baik dan mencegah perkara-perkara maksiat, manakala anda melihat seseorang tidak patuh kepada perintah Allah atau melanggar hukum-Nya. Camkan baik-baik karena kami mendapati banyak orang yang salah mengartikan perintah ini.
Firman Allah lainnya:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّونَ اَنْ تَشِيْعَ الفَا حِشَةُ فِى الَّذِ يْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ فِى الدُّنْيَا وًالْاٰخِرَةِ، وَاللهُ يَعْلَمُ وَ اًنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Baca Lanjutannya…

Oleh: aldyllah | September 24, 2010

Indahnya Bulan Rojab

Diriwayatkan bahwa Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM telah bersabda: “Ketahuilah bahwa bulan Rajab itu adalah bulan ALLAH, maka barangsipa yang berpuasa satu hari dalam bulan Rajab dengan ikhlas, maka pasti ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH SUBHANAHU WA TA’AALA.

Barangsiapa yang berpuasa dua hari dalam bulan Rajab mendapat kemuliaan disisi ALLAH SUBHANAHU WA TA’AALA. Barangsiapa berpuasa tiga hari dalam bulan Rajab, maka ALLAH akan menyelamatkannya dari bahaya dunia, siksa akhirat, dari terkena penyakit gila, penyakit putih-putih di kulit badan yang menyebabkan sangat gatal dan diselamatkan dari fitnahnya syaitan dan dajjal. Barangsiapa berpuasa tujuh hari dalam bulan Rajab, maka ditutupkan tujuh pintu neraka Jahanam.

Barangsiapa berpuasa 8 hari dalam bulan Rajab, maka dibukakan 8 pintu syurga baginya. Barangsiapa yang berpuasa 5 hari dalam bulan Rajab, permintaannya akan dikabulkan oleh ALLAH SUBHANAHU WA TA’AALA. Barangsiapa berpuasa 15 hari dalam bulan Rajab, maka ALLAH mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan dan barang siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan pahalanya.”

Sabda Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM: “Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari ais dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya Jibril as : “Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini?”Berkata Jibril as: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca selawat untuk engkau dibulan Rajab.”
Baca Lanjutannya…

Oleh: aldyllah | September 24, 2010

Jadilah Qori dalam Maqom Mustami’

بسم الله الرحمن الرحيم

Jadilah Qori’ Dalam Maqom Mustami’

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan wahyu dengan perantara Jibril, dengan menjadikannya rujukan untuk semua masaail, kesempurnaannya terlihat dari ragam nama yang meliputi keumuman dan kekhususan ma’na dalam tafdhil, ayat-ayatnya menjadi hujjah dan saksi dari setiap perbuatan bagi umat terdahulu atau yang bakal datang dengan tafshil.

Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam sebagai jembatan yang dapat mengantarkan amal kita kepada Robbul Bariyyah, yang tanpanya segala amal kita dapat tertrima atau tertolak dalam ibadah, tidaklah orang akan merasa bosan dan jenuh mengucapkannya jika telah memahami hikmah dibalik janji penuh arti di bawah bendera Muhammadiyah, semoga kepada ahlul bait dan dzuriyyah Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya untuk tabligh dalam da’wah yang slalu menetapi amanah.

Saudaraku yang dirahmati Allah, alquran dengan literatur bahasa yang tinggi dan sempurna telah melengkapi keindahannya, bukan saja berhenti disitu tapi juga bagi seluruh ummat Muhammad SAW diperintahkan untuk memperindah ayat-ayatnya dengan lantunan suara, sebagai mana Sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam:
زينوا القرآن باصواتكم
“perindahlah alquran dengan suaramu” ini merupakan perintah bagi kita yang hendak membaca alquran, agar supaya bacaan itu tidak membuat orang yang mendengar bosan dan meninggalkannya dan juga sebagai adab kita pada Pemilik firman.

Baca Lanjutannya…

Oleh: aldyllah | September 24, 2010

Kenapa Harus Madzhab Empat ?

Ahlussunnah Waljama’ah merupakan akumulasi pemikiran keagamaan dalam berbagai bidang yang dihasilkan para ulama untuk menjawab persoalan yang muncul pada zaman tertentu. Karenanya, proses terbentuknya Ahlussunnah Waljama’ah sebagai suatu faham atau madzhab membutuhkan jangka waktu yang panjang. Seperti diketahui, pemikiran keagamaan dalam berbagai bidang, seperti ilmu Tauhid, Fiqih, atau Tasawuf terbentuk tidak dalam satu masa, tetapi muncul bertahap dan dalam waktu yang berbeda.

Madzhab adalah metode memahami ajaran agama. Di dalam Islam ada berbagai macam madzhab, di antaranya; madzhab politik, seperti Khawarij, Syi’ah dan Ahlus Sunnah; madzhab kalam, contoh terpentingnya Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah; dan madzhab fiqh, misal yang utama adalah Malikiyah, Syafi’iyah, Hanafiyah dan Hanbaliyah, bisa juga ditambah dengan Syi’ah, Dhahiriyah dan Ibadiyah (al-Mausu’ah al-‘Arabiyah al-Muyassaraah, 1965: 97).

Istilah Ahlussunah wal jama’ah terdiri dari tiga kata, “ahlun”, “as-sunah” dan “al-jama’ah”. Ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan, bukan sesuatu yang tak terpisah-pisah.
Baca Lanjutannya…

Oleh: aldyllah | September 24, 2010

Kenapa Harus Madzhab Empat ?

Ketika Rasulullah masih hidup, umat manusia menerima ajaran langsung dari beliau atau dari sahabat yang hadir ketika beliau menyampaikan. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat – termasuk keempat khulafaurrasyidin ; Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali – menyebar luaskan ajaran Islam kegenerasi berikutnya. Dengan perkembangan zaman, dengan kondisi masyarakat yang kian dinamis, banyak persoalan baru yang dihadapi umat. Seringkali hal yang muncul itu tidak didapati jawabannya dengan tegas didalam al-Qur’an dan al-Hadits. Maka, untuk mengetahui hokum atau ketentuan persoalan baru itu, upaya ijtihad harus dilakukan.

Sesungguhnya ijtihad juga telah dilakukan oleh sahabat ketika Rasulullah masih hidup. Yakni ketika sahabat menghadapi persoalan baru tapi tidak mungkin dapat ditanyaka langsung kepada Rasulullah. Seperti pernah dilakukan oleh sahabat Muadz bin Jabal, saat diberikan tugas mengajarkan Islam di Yaman. Dan pada masa-masa sesudah kurun sahabat, kegiatan ijtihad makin banyak dilakukan oleh pada ulama ahli Ijtihad (Mujtahid).

Diantara tokoh yang mampu berijtihad sejak generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut-tabi’in, terdapat tokoh yang ijtihadnya kuat (disebut Mujtahid Mustaqil). Bukan hanya mampu berijtihad sendiri namun juga menciptakan “pola pemahaman (manhaj)” tersendiri terhadap sumber pokok hokum Islam ; Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ini dicerminkan dengan metode ijtihad yang dirumuskan sendiri, menggunakan kaidah-kaidah ushul fiqh, qawaidul ahkam, qawaidul fiqhiyyah, dan lain sebagainya. Proses dan prosedur ijtihad yang mereka hasilkan menandakan bahwa secara keilmuan dan pemahaman keagamaan serta ilmu-ilmu penunjung yang lainnya telah mereka miliki dan kuasai.
Baca Lanjutannya…

Oleh: aldyllah | September 24, 2010

MUTIARA HABIB UMAR BIN HAFIDZ

> Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah

> Barang siapa Semakin mengenal kepada Allah niscaya akan semakin takut.

> Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.

> Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.

> Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.

> Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.

> Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.

> Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.

> Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.

> Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.

> Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.

> Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian), lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.

> Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)

> Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.

> Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.

> Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.

> Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.

> Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih-Nya.

> Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.

> Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.

> Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.

> Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.

> Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.

> Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).

> Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.

> Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.

> Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.

( Disusun oleh : Ust Ja’far Sodiq Al Munawwar )

sumber : NU Online

Older Posts »

Kategori